Feeds:
Posts
Comments

Maturity didn’t measured by age, but it measured by the acceptance of responsibility.

Banyak hal yang bisa dianggap sebagai standar untuk mengukur kedewasaan seseorang, tapi bagi saya sendiri, yang menjadi tolak ukur penting dari kedewasaan adalah seberapa besar kapasitas orang tersebut untuk dapat menerima tanggung jawab yang dibebankan atas dirinya. Kata-kata di atas saya dapetin sekitar 5 taun yang lalu, tapi saya inget sampai hari ini, krn based on my life experience, hal ini banyak terbukti kebenarannya.

Well, saya sendiri juga belum dapat diandalkan dalam hal ini, tapi disini saya cuma mau sedikit sharing pengalaman saya. Mungkin bisa berguna. Well, pengalaman pribadi memang masih dan sepertinya akan selalu menjadi guru yang terbaik bagi kita, tapi biarpun demikian saya percaya, kalau kita dapat belajar dari pengalaman orang lain, kita dapat mempersingkat waktu untuk mengambil langkah yang benar dari pengalaman orang tersebut, daripada kita harus membuang waktu untuk mendapatkan pelajaran yang kurang lebih sama.

Kesediaan untuk bertanggung jawab adalah sesuatu yang tidak mudah, terutama apabila berkaitan dengan hak kita sendiri. Makna dari tanggung jawab yang saya tulis disini bukan hanya sesempit arti “menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tepat waktu” atau “melakukan hal yang harus dilakukan setelah melakukan kesalahan” akan tetapi lebih ke arah “bagaimana memaksimalkan hidup kita agar menjadi pribadi yang berkualitas.”

Salah satu anugrah yang besar dari Tuhan untuk kita adalah kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini. Jadi, kalau masih ada yang menganggap bahwa kehidupan ini adalah suatu kutukan, mungkin sudut pandang kamu memandang salah sehingga kamu tidak dapat melihat keindahannya. Saya juga masih suka mengeluh dan kadang-kadang cape buat semua hal yang terjadi, tapi pada akhirnya setelah satu masalah selesai, dan ternyata sesuatu yang terjadi tidak seperti yang saya pikirkan, saya melihat bahwa kehidupan kita memang penuh dengan masalah dan problema dengan satu tujuan dan kepastian. Ada kepastian bahwa setiap permasalahan yang ada pasti akan berlalu, dan ada satu tujuan bahwa sewaktu masalah itu pergi, dia selalu, dan tidak pernah tidak, akan memberikan hadiah untuk kita. Tentunya kamu tau kan hadiahnya apa? Problem always bring new precious experience to your life.

Memaksimalkan potensi di dalam diri kita doesn’t mean we should be an workaholic. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau kita melakukan segala sesuatu dengan berlebihan, kita akan kehilangan sesuatu yang terpenting, yaitu kita tidak dapat menikmati apa yang kita lakukan, karena kita melakukan segalanya oleh karena target dan sasaran yang selalu semakin besar tanpa batas.

Memaksimalkan potensi di dalam diri kita juga bukan berarti kita harus jadi orang paling sukses di dunia. Ya, kita memang harus memiliki visi dan sasaran yang besar, tapi jangan patokan dan sasaran kita menjadi sesuatu yang mengintimidasi dan menekan kita sendiri. Orang sukses karena berkat Tuhan, dan sama sekali bukan dari usahanya sendiri. Kalau kita mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan direndahkan. (baca : kamu akan disadarkan bahwa kamu adalah manusia yang lemah dan tidak sanggup berbuat apapun tanpa Dia)

Memaksimalkan diri kita adalah kemampuan untuk menjadikan segalanya seimbang di dalam hidup kita. Ada orang yang karirnya hebat luar biasa, tetapi rumah tangganya tidak harmonis. Ada yang memiliki keluarga yang sangat menyenangkan, tetapi sering menghadapi permasalahan ekonomi. Ada orang yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan uang banyak, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menikmati apa yang dia cari itu, sedangkan ada yang hanya memiliki kemampuan yang wajar dalam mencari nafkah, tetapi dia sangat menikmati setiap sen yang dia dapatkan bersama dengan orang-orang terdekat yang ada di dalam hidupnya. Menurut kalian, orang yang mana yang hidupnya lebih maksimal?

Kenapa tanggung jawab berkaitan dengan hidup yang maksimal? dan apa hubungannya hidup yang maksimal dengan hidup yang seimbang? Jawabannya, semua itu sangat berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Bila kehidupan kita pincang, atau hanya sukses di satu bahtera tapi hancur di bahtera lain, hidupmu sama sekali tidak akan maksimal. Kita di dalam hidup ini menjadi nahkoda berbagai bahtera. Ada yang namanya bahtera ekonomi, ada yang namanya bahtera rumah tangga, ada yang namanya bahtera parenting atau mendidik anak, dan semuanya harus kita kemudikan dengan seimbang. Mengapa demikian? Kita harus menyeimbangkan semuanya itu supaya kita memiliki kemampuan untuk menikmati semuanya itu. Karena jika tidak, kita tidak akan dapat menikmati semuanya sama sekali.

Kita mencari uang untuk keluarga dan orang-orang yang kita kasihi bukan? Kalau bahtera rumah tangga hancur, apa gunanya mencari uang banyak? Maka dari itu, setelah sadar akan prinsip keseimbangan ini, orang-orang yang broken home akan cepat-cepat menambal dan memperbaiki bahtera mereka yang rusak itu, agar kemampuan menikmati dapat mereka dapatkan kembali, walaupun tidak akan maksimal seperti orang yang menjaganya dengan baik sejak awal.

Dalam menjaga keseimbangan, kita melakukan banyak sekali tanggung jawab di dalam hidup kita. Sadar tidak sadar, hampir 100% di dalam aktifitas kita, tidak terlepas dari tanggung jawab. Permasalahannya, what kind of responsibility u took, and how well u did it for become your own good? Kita makan, minum, tidur dengan baik karena kita bertanggung jawab menjaga kesehatan, kita bermain, dan menjalin hubungan dengan sesama karena kita bertanggung jawab terhadap jiwa kita, kita menjalin hubungan dengan setia karena kita bertanggung jawab terhadap jiwa orang lain, kita belajar karena kita bertanggung jawab terhadap setiap nafkah orangtua yang diberikan kepada kita, kita bekerja karena kita bertanggung jawab terhadap hidup kita sendiri dan orang yang kita kasihi, Pengorbanan dan segala yang terbaik akan kita berikan kepada anak kita nantinya, dan semua yang kita berikan adalah pertanggungjawaban kita sebagai orang tua.

Jadi semuanya penuh dengan tanggung jawab. Kembali ke awal dari pembicaraan kita. Maturity adalah seberapa besar kita dapat mengambil tanggung jawab atas segala yang dibebankan kepada kita? 70 persen? Mungkin hanya materi, hubungan, dan anak saja. Tetapi kesehatan kurang diperhatikan. Ini juga bukan sesuatu yang baik. Jadi, lewat hal ini, saya juga ingin mengatakan kepada kamu bahwa tindakan merusak tubuh seperti rokok atau alkohol yang melebihi kewajaran adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap hidupmu, and it means… u are not mature enough that u can’t take responsibility to yourself.

Apakah hal ini mudah? Tentu tidak, bahkan sama sekali tidak. Ada yang mengabaikan 20%, ada yang mengabaikan bahkan hampir setengahnya. Sebenarnya persentase ini menunjukkan kualitas hidupmu juga secara keseluruhan. Hidup itu tidak dipandang dari satu sisi saja, tetapi dinilai dari semua aspek. Well, kita tidak dapat menjadi orang sempurna, tapi kita juga ingin hidup kita menjadi lebih baik lagi bukan? Kalau benar demikian, coba kita mulai dari yang kecil dulu. Coba kita pikirkan semua hal-hal yang kita jelas sadar dan tau bahwa hal itu buruk dan sangat perlu kita lepaskan.

Kualitas hidup itu hanya akan dapat dinilai oleh pasanganmu atau orang-orang terdekatmu yang mengenal kamu sangat dalam. Ada orang disanjung tinggi oleh banyak orang, tapi belum tentu pendapat istrinya demikian. Mengapa begitu? Karena istrinya mengetahui segala aspek orang tersebut.

Ada satu hal yang penting, yaitu Fokus. Kata-kata ini sering digunakan dalam berbagai acara motivasi. Menurut saya, acara demikian itu baik, tetapi banyak yang cenderung menyesatkan karena melupakan hal-hal penting lain selain materi, dan ajarannya banyak yang merupakan aliran new age, bahwa manusia dapat melakukan apa saja. Potensi diri kita adalah tidak terbatas. Hei, manusia itu adalah debu! Manusia yang mengandalkan dirinya sendiri akan direndahkan! Realize it before it is too late!

Tetapi, kata fokus sendiri adalah baik dan benar. Dalam bekerja dan melakukan apapun memang harus fokus. Kamu tidak mungkin kan memiliki 10 bidang usaha yang sukses semua? Kamu tentu harus memilih 1 bidang usaha yang kamu suka untuk kamu tekuni dan kamu dapat sukses disana. Kamu juga tidak dapat dan TIDAK AKAN PERNAH dapat mencintai 2 orang dengan seimbang, sehingga kamu harus memilih 1 orang  untuk kamu berikan segala-galanya. Inilah yang dimaksud dengan Fokus. Arti fokus adalah positif, jangan dijadikan negatif dengan berarti berkonsentrasi di satu hal dan mengabaikan hal yang lainnya.

Last but not least, bahkan yang terpenting, karena adalah DASAR dari segala yang kita lakukan, yaitu dalam melakukan segala sesuatunya, JANGAN PERNAH bersandar pada kekuatanmu sendiri, tetapi selalu bersandar pada Tuhan, karena diberkatilah orang yang bersandar dan menaruh segala harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti tanaman yang ditanam di tepi aliran air, yang berbuah pada musimnya, tidak pernah layu daunnya, dan apa yang diperbuatnya BERHASIL.

Semoga pengalaman ini dapat memberikan inspirasi.

Tuhan Yesus memberkati.

Kong Hee, City Harvest Church

Marriage 101

 

Pernikahan memang bertujuan meneruskan keturunan seperti perintah Tuhan pada manusia, akan tetapi ini bukanlah alasan satu-satunya saudara menikah. Kejadian 1:28 berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.Mazmur 127:3-5 berkata, “Anak-anak adalah pemberian Tuhan. Mereka adalah upah. Anak bagi anak muda adalah seperti panah yang tajam untuk mempertahankan dirinya. Berbahagialah orang yang tabung panahnya penuh dengan mereka.” Jadi, Tuhan memang menghendaki kita untuk mempunyai keturunan, dan pernikahan adalah cara untuk mencapainya.

Tujuan yang kedelapan, pernikahan adalah untuk keintiman. Dan cara untuk menjadikan pernikahan menjadi berarti adalah dengan melibatkan keintiman di semua area. Dan keintiman ini harus mencapai 5 area. Area yang pertama adalah di dalam roh. Saudara harus intim antara roh dengan roh dengan pasangan saudara.

Saudara juga harus mengenal dari hati ke hati. Ini adalah kedalaman memanggil kepada kedalaman. Inilah mengapa akan menjadi sangat sulit jika saudara menikah dengan seseorang yang tidak seiman. Bagaimana caranya bersekutu secara roh jika saudara dan pasangan saudara tidak seiman? Saya ingin menjelaskan, bahkan jika saudara menikah dengan seseorang yang seiman, akan tetapi bila secara roh saudara sangat dewasa sedangkan pasangan saudara hanyalah kanak-kanak rohani, bagaimana saudara akan dapat berkomunikasi?

Bayangkan jika saudara mengajak pasangan saudara, “Marilah kita membaca Epistles (Kisah Rasul)” dan pasangan saudara menjawab, “Apakah itu Epistles? Apakah dia adalah anak dari Apostles?” Ini akan menjadi hal yang sangat sulit. Saudara berkata, “Mari kita berdoa.” Pasangan saudara berkata, “Ah, tidak usah berdoa. Saya sudah berdoa tiga bulan yang lalu.” Jadi, keintiman ini harus masuk mencapai hingga ke dalam roh.

Area yang kedua, keintiman juga harus mencapai ke dalam emosi. Saya mau mengatakan kepada saudara, topik ini sangat besar, sehingga saya akan membahasnya selama 2 atau 3 minggu hanya akan berbicara mengenai emosi. Karena jika emosi saudara tertutup, jika saudara tidak dapat bisa merasakan dicintai, apakah ada kesukaan yang tersisa di dalam pernikahan saudara? Jika hati saudara menjadi dingin, apa kesukaan yang akan saudara dapatkan ketika saudara pulang ke rumah setiap malam?

Area yang ketiga, keintiman juga harus masuk ke dalam tingkat pikiran. Harus ada keintiman di tingkat intelektualitas. Sedangkan dua area yang terakhir adalah harus ada keintiman secara fisik, dan juga harus ada keintiman sekali lagi di area keuangan.

Jadi keintiman adalah identitas yang dibagi. Ini adalah hubungan yang dijalankan dengan kata kami atau kita. Kita ada di dalam hal ini bersama-sama. Saudara tidak menyebut lagi rekeningku dan rekeningmu kepada pasangan saudara. Saudara juga tidak membagi tabunganku dan tabunganmu kepada pasangan saudara. Atau kamarmu dan kamarku, mobilku dan mobilmu. Semuanya menjadi milik kita. Mobil kita, tabungan kita, uang kita, rencana pensiun kita, dan lain-lain.

Ada pernikahan yang berlawanan dengan pernikahan yang saya bahas di atas, yaitu yang disebut dengan pernikahan lajang. Pernikahan lajang ini adalah pasangan suami istri yang menikah, tetapi setiap individu berjalan sendiri-sendiri. Dan saya ingin mengatakan kepadamu, banyak kejadian di gereja, atau bahkan di antara kita, mungkin ada yang termasuk di dalam kriteria pernikahan lajang. Saudara memang menikah, tetapi saudara hidup seakan-akan saudara masih lajang.

Apa perbedaan pernikahan yang benar dengan pernikahan lajang? Di dalam pernikahan lajang, saudara memang tinggal bersama-sama di rumah yang sama, dan tidur di ranjang yang sama dengan pasangan saudara, akan tetapi saudara memiliki kehidupan sendiri masing-masing.

Jadi pernikahan fisik melibatkan penyatuan emosi. Seperti tubuh, emosi memberikan warna di dalam pernikahan saudara. Keintiman emosi membutuhkan usaha yang lebih besar daripada sekedar seks. Seks mungkin akan berlangsung selama 10 menit, 20 menit, atau 40 menit, akan tetapi untuk menciptakan keintiman emosi, membutuhkan usaha keras, memerlukan banyak kepercayaan, memerlukan keterbukaan diri.

Jadi emosi dari pria atau wanita mungkin ada di tingkat intensitas yang berbeda. Tetapi pada saat suami istri belajar untuk berbagi di dalam tingkat emosional, ketika saudara mengerti satu sama lain, dan merasakan perasaan masing-masing, barulah saudara telah merasakan keintiman di dalam pernikahan saudara. Tetapi untuk semuanya itu dapat terjadi, tembok-tembok emosional harus diruntuhkan. Hal ini harus diruntuhkan.

Hati saudara dengan pasangan saudara seharusnya berdetak bersama-sama. Akan tetapi jika di antara hati saudara ada tembok pemisah dengan hati pasangan saudara, bagaimana caranya hati saudara dapat berdetak bersama-sama dengan hatinya? Banyak orang itu seperti puri-puri abad pertengahan. Saudara membangun puri-puri dan tembok-tembok yang melindungi hati saudara dari kemungkinan disakiti. Dengan tembok-tembok ini, memang bagus. Tidak ada hal yang jelek dapat masuk ke dalam hati saudara, tetapi coba tebak, apa akibat lainnya? Tidak ada sesuatupun yang baik yang ada di hati saudara yang dapat keluar.

Jika saudara membangun tembok, saudara memang tidak bisa disakiti, tetapi saudara juga tidak dapat memberikan kasih ataupun mengalami dikasihi juga. Jadi, apakah saudara mempunyai tembok dalam kehidupan saudara hari ini?

Selama 6 bulan terakhir ini, saya dan istri saya banyak mengkonseling pasangan-pasangan di gereja, dan mereka ada yang sudah menikah antara 5 sampai 7 tahun. Dan tembok-tembok yang ada begitu besar. Sesungguhnya pernikahan mereka seperti pernikahan lajang. Mereka tidak merasakan cinta satu sama lainnya. Alasan yang biasa dipakai adalah “Saya tidak mencintai suami saya lagi.” atau “Saya tidak menyayangi istri saya lagi.” Keduanya terpisah, dan waktu ditelik sampai ke akar permasalahannya, ternyata di antara mereka terdapat tembok yang besar.

Ya, mereka memang tidak akan merasa disakiti, tetapi mereka juga tidak akan merasa dikasihi, atau mengalami kasih. Jadi, orang yang tinggal di dalam puri seperti ini, sebenarnya sedang tinggal di dalam penjara buatan sendiri. Dia perlu akan kasih, dia memerlukan merasa dikasihi oleh orang lain, tetapi tembok yang ada begitu tinggi, sehingga sangat sulit untuk menjangkaunya, dan sulit untuk orang lain dapat masuk. Jadi, saya tulis di catatan saudara, sebuah puisi mengenai tembok yang menggambarkan kondisi sebuah pernikahan yang menyedihkan, di mana pernikahan tersebut tidak memiliki keintiman emosi. Coba saudara dengarkan ini.

 

Foto pernikahan mereka mencibir dari atas meja.

Ini adalah pemikiran yang saling tidak menyentuh.

Mereka hidup di dalam barikade yang begitu besar,

Sehingga tidak ada kata-kata, atau tembakan sentuhan dapat masuk.

 

Suatu masa di antara waktu, mereka telah kehilangan satu sama lainnya.

Selama bertahun-tahun, mereka mencoba membuka gulungan benang bola yang bernama diri sendiri,

dan sewaktu mereka ingin bertemu satu sama lain,

masing-masing menyembunyikan diri dari pencariannya.

 

Terkadang istrinya menangis di waktu malam dan mengemis di dalam keheningan gelap, untuk memberitahu siapa dirinya.

Sedangkan sang suami tidur seperti beruang yang sedang tidur dan tidak menyadari ada kedinginan seperti musim salju di hati istrinya,

 

Sesekali setelah mereka bercumbu, sang suami ingin menceritakan kepada istrinya tentang ketakutannya mengenai kematian,

tetapi karena ketakutannya dalam membuka jiwa dan hatinya, sang suami akhirnya hanya memuji keindahan tubuh istrinya saja.

 

Sang istri mengambil kursus seni modern, mencoba untuk menemukan jati diri dalam sentuhan cat warna di kanvasnya,

dan ia mengeluh kepada wanita lain mengenai pasangannya yang tidak sensitif.

 

Sang suami menggali kuburan pernikahannya yang bernama pekerjaan,

membaurkan diri dengan angka-angka yang ada di kertas,

dan mengubur diri dengan pelanggan-pelanggan yang ada di kantornya.

Semakin lama, tembok di dalam pernikahan mereka semakin diperkuat dengan semakin banyaknya perbedaan yang ada.

 

Suatu hari, ketika mereka memiliki kesempatan untuk saling menyentuh,

mereka menemukan mereka mempunyai penghalang yang tidak dapat ditembus,

dan seiring dengan kesulitan di dalam kehidupan yang datang,

mereka berdua saling menarik diri dari “orang asing” yang ada di sebelahnya.

 

Karena saat cinta mati, dia tidak mati.

pada saat kemarahan di dalam peperangan, ataupun pada saat tubuh kehilangan panasnya, dia terbaring lelah, letih berkeringat, di bawah tembok buatannya yang tidak dapat dia panjat.

 

Kita akan belajar lebih banyak lagi tentang tembok emosional di pelajaran yang ke 8. Dan saya juga menuliskan puisi yang lain, yang berjudul “Saya memerlukanmu”, yang dikarang oleh Jerry dan Barbara Cook. Mereka melukiskan gambaran yang lebih baik. Saya ingin membawa saudara ke dalam hal yang positif, jadi mari kita akhiri bagian pertama ini dengan baik. Tuhan ingin saudara menjadi positif. Mari kita katakan ke kiri dan kanan saudara “Kamu dapat menjadi positif dalam pernikahanmu.“ Ini adalah arti yang sesungguhnya dari pernikahan.

 

Saya memerlukanmu di waktu saya kuat, dan di waktu saya lemah,

Saya memerlukanmu di waktu kamu terluka sebanyak di saat saya terluka,

Tidak ada pilihan lagi akan apa yang kita akan saling bagi,

Yang ada apakah kita saling berbagi dalam seluruh hidup kita,

atau kita hanya akan menjadi orang-orang yang hancur.

 

Saya tidak menikahimu karena kebutuhan atau keinginan untuk dibutuhkan,

Kita tidak dikendalikan oleh insting atau kekosongan,

Kita memilih pilihan cinta kasih,

Tetapi saya rasa sesuatu yang supranatural terjadi pada saat komitmen pernikahan, atau mungkin ini adalah hal yang alami.

 

Seorang suami menjadi kenyataan, dan seorang istri lahir,

Si pria untuk sebelum dan sesudahnya adalah sama,

tetapi waktu itu ia juga menjadi seorang pria yang juga menjadi suami,

atau seorang pria yang membutuhkan istrinya

 

Si wanita untuk sebelum dan sesudahnya adalah sama,

tetapi mulai dari sekarang, ia memerlukan pria ini.

Dia adalah individu, tetapi juga bagian dari satu kesatuan yang baru.

 

Mungkin ini adalah maksud dari kata-kata “apa yang dipersatukan Tuhan.” Apakah Tuhan melakukan hal yang istimewa saat kita berkata “Saya bersedia!” ? Apakah istimewa saat terciptanya seorang ibu? Sewaktu seorang ibu melahirkan bayi, itu adalah keajaiban yang begitu nyata, dan di antara mereka, tidak ada yang dapat bertahan tanpa kehadiran satu dengan yang lainnya.

Begitu juga dengan persatuan di dalam pernikahan. Pernikahan adalah penyatuan dari dua individu yang mandiri, menjadi pasangan yang saling bergantung, dan ini terjadi begitu nyata, sehingga sewaktu engkau terluka, aku juga terluka, dan untuk hal ini, tidak ada satu hal apapun yang dapat saya lakukan untuk mencegahnya.

Kesedihanmu adalah milikku juga. Walaupun engkau tidak pernah menceritakannya kepadaku. Tetapi ketika engkau menceritakannya kepadaku, perasaan berbagai hal yang belum aku ketahui menjadi lebih mudah bagiku. Dengan engkau menceritakan kesedihanmu, aku dapat mengetahui alasan mengapa aku juga memiliki perasaan terluka.

Apapun sebabnya adalah lebih mudah mengetahui segalanya dengan terbuka, daripada diliputi oleh pikiran-pikiran yang dibuat oleh ketakutan. Dan engkau juga dapat menikmati dari kekuatanku di dalam kelemahanmu, dan juga sebaliknya. Jadi kita memang adalah satu. Maka mungkin, di suatu saat, engkau tidak selalu memiliki daya tahan untuk menghadapi segala permasalahan yang menyerang, demikian juga aku.

Luka-luka tertentu dari dirimu sebagian disembuhkan oleh bagian dari diriku. Ketika bagian dari tubuh kita merasa terancam, seluruh bagian yang lain bergerak untuk melindunginya. Apakah ini kehidupan pernikahan dari pasangan yang saling berkomitmen yang dikatakan bahwa mereka telah menjadi satu daging? Tentu saja ya.

Pernikahan seharusnya adalah seperti ini. Bukan hanya pernikahan Kristen saja, tetapi apa yang dikatakan pernikahan, seharusnya adalah seperti ini. Ini adalah hal yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita.

Saya ingin bagi saudara yang menikah, saudara bisa tetap saling mencintai seumur hidup saudara. Dan saya juga ingin menyampaikan kepada mereka yang masih lajang, bagi saudara yang suatu saat akan menikah, atau bagi saudara yang belum menikah tetapi benar-benar ingin menikah, saya ingin saudara tahu, bahwa saudara dapat masuk ke dalam pernikahan ini dengan iman saudara.

Saudara tidak perlu menunda. Banyak orang begitu takut. Bagaimana jika hal ini tidak berjalan dengan baik? Bagaimana jika ini dan ini dan itu? Dengarkan ini. Apapun yang saudara lakukan di dalam hidup saudara, sesungguhnya saudara melakukannya dengan iman saudara. Saudara tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok, bahkan waktu di depan saudara.

Jika dasar dari hidupmu benar, saya katakan kepada saudara, pernikahan akan menjadi surga di bumi dalam kehidupan saudara.

Kemarin saya ada di New York, dan saya melihat seseorang berjalan bersama anjingnya. Dan muka anjing itu benar-benar mirip dengan pemiliknya. Ketika saudara menikah, ada penyatuan jiwa. Saya ingin beritahu, bukan saja saudara akan menjadi mirip, detak jantung saudara juga menjadi satu.

Dua adalah lebih baik daripada seorang diri. Dan ketika Yesus ada di dalam pernikahan, pernikahan saudara tidak dapat diputuskan. Seseorang dapat menghancurkan 1000 musuh, tetapi jika berdua dapat menghancurkan 10.000. Tidak ada yang tidak dapat saudara capai di dalam hidup ini ketika saudara menikah dengan orang yang tepat, yang Tuhan rencanakan di dalam hidup saudara.

Sekarang saudara semua bangkit berdiri, dan semua katakan dengan iman untuk kepentingan mereka yang sudah menikah, “Terima kasih Tuhan, saya telah menemukan seseorang yang tepat.” Sentuh pasanganmu sekarang, dan mari kita berdoa di dalam nama Yesus.

 

Bapa di dalam nama Yesus yang berkuasa, apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak ada pria, tidak ada wanita, tidak ada sekretaris, tidak ada teman sekerja, tidak ada teman, tidak ada hubungan iseng-iseng, dan tidak ada Iblis yang merusakkan hubungan kami di dalam nama Yesus.

 

Bapa di dalam nama Yesus yang berkuasa, saya berdoa Tuhan selalu bangkitkan cinta mula-mula, kobarkanlah terus api cinta, dan tolong kami untuk dapat menghancurkan setiap tembok emosional di dalam kehidupan pernikahan kami. Tembok emosional saat ini dihancurkan di dalam nama Yesus.

 

Bapa, saya berdoa di dalam nama Yesus, biar kasih kuasa Tuhan mengalir di dalam kehidupan kami sekarang. Untuk pasangan yang telah menikah, pengurapan Roh Kudus turun ke atas mereka sekarang. Tuhan kukuhkan ikatan pernikahan ini, tolong mereka untuk menjadi kuat, dan tetap setia satu sama lainnya, di dalam nama Yesus, Amin.

 

Saya mau memberitahu saudara apa hal-hal yang memperkukuh pernikahan. Apa yang membuat pernikahan tetap kuat adalah pengurapan Roh Kudus. Dan apa yang membuat saudara dapat bertahan sampai akhir adalah kuasa Tuhan. Saudara harus melakukan bagian saudara. Saudara harus bekerja keras untuk itu. Tetapi campur tangan Tuhan akan membuat pernikahan saudara menjadi kuat. Dan sekarang kita doakan mereka yang telah menikah. Kita doakan mereka bersama-sama.

 

Bagi saudara yang masih lajang, katakan ini untuk mewakili mereka yang telah menikah sebagai doa mereka kepada Tuhan. Berdirilah dan doakanlah mereka.

 

Bapa kami yang di Surga, Engkau adalah lem yang menyatukan hati saya dengan hati pasangan saya.

Jadi, di dalam nama Yesus sekarang sekali lagi saya mengundang Engkau, Roh Kudus, datanglah di dalam pernikahan saya.

 

Tolong saya agar dapat tetap mencintai pasangan saya.

Bangkitkan cinta mula-mula yang ada di dalam diri saya.

Biarkan api cinta itu menyala dengan kuat, dan biarkanlah kasih itu tetap kuat.

Bangkitkanlah api gairah cinta, dan biarlah terjadi keintiman yang sejati di semua area di dalam pernikahan saya.

 

Lindungilah pernikahan ini di dalam nama Yesus,

sebab apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak ada yang boleh memisahkannya.

 

Bapa, biarlah kasih Tuhan mengalir kepada setiap kami.

Pernikahan adalah perjanjian dan komitmen.

Tolong kami untuk dapat menjadi seperti diriMu.

 

Ketika ada ketidaksetiaan, kami akan tetap setia,

karena kami berkomitmen kepada pasangan kami untuk seumur hidup kami.

Kami berdoa di dalam nama Yesus,

Amin

 

 

 

Kong Hee, City Harvest Church

Marriage 101

 

 

Selain itu, pernikahan saudara akan diuji oleh keuangan. Pernikahan juga akan diuji dalam hubungan dengan mertua, dan bila hubungan itu tidak baik, mereka bisa menjadi musuh saudara. Nanti kita akan membahas penuh bagaimana menangani orangtua yang selalu datang berkunjung, layaknya sebuah opera sabun yang berjudul Everybody Loves Raymond. Anda semua ada yang suka menontonnya, bukan? Sangat mengesalkan sekali melihat dia tinggal berseberangan jalan dengan orangtuanya.

Orangtua adalah sesuatu yang indah, tetapi kita akan membahas bagaimana menangani hal ini, agar janji dalam pernikahan kita tetap kuat. Tuhan akan selalu melakukan bagianNya, tetapi apakah Abraham melakukan bagiannya? Apakah Abraham mengasihi pihak kedua dalam ikatan perjanjian ini lebih dari harta berharga yang ada di hidupnya? yaitu anak perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepadanya, yaitu Ishak. Tentu saudara mengetahui lanjutan cerita ini. Abraham melakukan bagiannya, dan dia setia kepada kata-katanya. Abraham mengasihi dan percaya kepada Tuhan, lebih dari mengasihi anak satu-satunya, Ishak.

Inilah alasan yang keempat. Perjanjian saudara akan diuji lagi dan lagi.

Marilah kita kembali ke Kejadian 17, kita baca di ayatnya yang ke 9. “Dan Firman Tuhan kepada Abraham, dari pihakmu, engkau harus memegang teguh perjanjianmu, engkau dan keturunanmu turun temurun. Inilah perjanjianmu yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu juga keturunanmu, yaitu engkau harus disunat, engkau dan keturunanmu, dan itu akan menjadi tanda perjanjianKu denganmu.”

Alasan yang kelima, setiap perjanjian harus memiliki tanda. Setiap perjanjian haruslah ditandai dengan sesuatu. Memang perjanjian ini bukanlah kontrak, tetapi walaupun demikian, tetaplah dalam perjanjian harus ada tanda. Kontrak ditandai dengan tinta, tetapi perjanjian ditandai dengan darah. Perjanjian ditandai dengan penumpahan darah.

Dalam bahasa Ibrani, arti kata perjanjian adalah memotong sebuah irisan yang dari padanya darah akan mengalir. Jadi Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham dengan melakukan sebuah tanda penyunatan, yang berarti mengiris dan membuat darah mengalir. Contoh lainnya adalah sewaktu Tuhan mengikat perjanjian dengan Nuh. Tuhan melakukan penumpahan darah setelah terjadi banjir besar. Akan tetapi contoh yang terbaik adalah dalam Perjanjian Baru. Yesus menumpahkan darahNya di Kalvari, Dia mati di atas kayu salib untuk membawa kita ke dalam perjanjian baru. Saya beritahu saudara, darah ini masih tetap berkuasa hingga saat ini dan selama-lamanya. Darah Yesus Kristus membuat setan-setan pergi, dan membuat orang-orang diselamatkan dan dibebaskan dari hukuman yang kekal. Haleluya!

Bahkan seluruh dunia pun tahu akan hal ini. Bahkan orang-orang yang tidak percaya di dalam nama Yesus pun mengerti akan hal ini, khususnya anggota gangster. Ada yang mereka istilahkan dengan “kita bersaudara karena darah”. Apa yang mereka lakukan? Mereka menumpahkan darah mereka untuk membuat hubungan persaudaraan yang tetap. Oleh karena itu mereka disebut saudara sedarah, saudara karena darah.

Begitu juga dalam hari pernikahan. Pada malam pertama pasangan suami istri menikah, ada penumpahan darah, sewaktu selaput keperawanan ditembus, ada darah yang mengalir, yang merupakan tanda perjanjian yang tetap. Penumpahan darah ini adalah tanda bahwa pasangan suami istri ini telah memasuki kehidupan perjanjian yang sakral. Jadi hubungan intim yang pertama dilakukan oleh pasangan suami istri ini adalah perjanjian darah yang Tuhan ciptakan sebagai tanda dimulainya sebuah keluarga.

Ada hal lainnya di dalam perjanjian Baru. Yesus menumpahkan darahNya di kayu salib karena dosa-dosa kita. Kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan kita juga melakukan baptisan air. Kita dibaptis air juga adalah sebagai tanda perjanjian. Sama halnya dengan perjanjian sunat, baptisan air juga menjadi tanda ekspresi nyata akan hati kita kepada Tuhan. Baptisan ini adalah ekspresi nyata dari apa yang ada di dalam hati kita, sebagai tanda perubahan yang saudara alami di dalam hati saudara waktu saudara menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara.

Sama halnya dengan pernikahan tadi. Pernikahan diikuti dengan hubungan seks. Ini adalah bukti ekspresi nyata dari kedalaman hati pasangan tersebut. Mungkin saudara terkejut mendengar saya mengatakan ini secara eksplisit. Tetapi saya mau memberitahu saudara, bahwa akan ada satu bagian khusus dimana saya akan membahas semua tentang hal ini. Saya adalah pastor saudara dan juga gembala saudara, jadi dalam konteks kekudusan gereja, saya akan memberitahukan hal ini.

Jadi, seks adalah sesuatu yang indah. Hubungan seks adalah ekspresi yang paling intim yang bisa dilukiskan oleh pasangan suami istri yang penuh kasih, dan itu akan ada seiring komitmen dan perjanjian mereka masing-masing. Ibrani 13:4 berkata, “Janganlah kamu mencemarkan tempat tidur.” Sedangkan terjemahan lain berkata hubungan seks adalah hubungan yang paling suci terhadap Tuhan dan juga terhadap pasangan suami istri. Seks di dalam pernikahan adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang kudus, tanpa ada rasa bersalah ataupun penyesalan di dalamnya. Jadi ketika dua orang berhubungan seks di luar pernikahan, akan berbeda. Seks yang dilakukan di dalam pernikahan adalah sesuatu yang kudus dan indah, akan tetapi seks yang dilakukan di luar pernikahan, hanya akan mendatangkan perasaan bersalah dan penyesalan.

Mengapa demikian? Karena dengan melakukan hubungan seks di luar pernikahan, hati nurani saudara akan tahu bahwa ada sesuatu yang telah saudara rusak. Ini hanya akan mendatangkan penyesalan yang sangat dalam, dan ada kemungkinan untuk kedua orang ini tidak akan menikah. Ataupun jika mereka menikah, mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan surga di dalam dunia di dalam pernikahan mereka.

Ini mungkin terjadi hanya karena hubungan dalam satu malam, tetapi akibat yang ditimbulkannya adalah penyesalan dan rasa bersalah yang sangat dalam. Masalah yang datang hidup saudara tidak akan tenang karena ada perasaan takut ketahuan orang lain akan perbuatan yang saudara lakukan, dan yang lebih parah, jika  saudara memiliki anak yang tidak saudara harapkan. Setelah itu datanglah pertimbangan di dalam pikiran saudara dimana saudara akan melakukan aborsi. Jadi hubungan yang dilakukan di luar pernikahan hanya akan menimbulkan rasa bersalah, rasa penyesalan, dan ketakutan.

Alkitab menggunakan dua macam kata dalam menuliskan hubungan seks. Untuk hubungan di luar pernikahan, Alkitab menuliskan “A man is lying with the woman” atau seorang pria tidur dengan seorang wanita. Jika saudara tidak menikah, dan berhubungan seks, saudara hanya tidur dengan wanita tersebut secara fisik saja. Tetapi jika saudara ada di dalam pernikahan kudus dan berhubungan seks, Alkitab menuliskan dengan kata “The man knows the woman deeply” atau pria itu mengenal kedalaman wanita tersebut. Jadi hal ini merupakan hal yang berbeda sekali. Yang pertama hanya tidur secara fisik, tetapi yang kedua sangat mengenal individu lainnya satu sama lain.

Jadi, seks di luar pernikahan hanyalah hubungan secara fisik yang dangkal sekali, akan tetapi hubungan seks di dalam pernikahan mendatangkan keintiman yang dalam dan proses mengenal hingga kedalaman masing-masing satu sama lain. Persahabatan atau hubungan manusia lain, tidak akan pernah menghasilkan hal ini. Saudara akan mengalami sesuatu yang berbeda dari hubungan yang lainnya. Saudara mengetahui bahwa dua roh sedang bersatu, hati mulai luluh, dan dua tubuh mulai menyatu.

Seks bukanlah untuk kedagingan, atau untuk mendapatkan satu sama lainnya. Seks diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi dan memberi. Jika tidak ada keinginan di dalam hati untuk mengasihi, melakukan pengorbanan, atau memberi komitmen 100 persen, kedua orang tersebut tidak memiliki hak sama sekali atas hubungan seks, dan inilah sebabnya seks hanya boleh dilakukan di dalam pernikahan. Ini adalah hubungan yang paling kudus. Hubungan seks adalah membuka dirimu 100 persen, dan membiarkan pihak lain mengetahui dirimu secara utuh.

Mari kita lihat Kejadian 17:5 sekali lagi. “Karena itu namamu bukan lagi Abram melainkan Abraham.” dan lihat ayat yang ke 15, “Selanjutnya Tuhan berfirman kepada Abraham : Mengenai istrimu, Sarai, janganlah engkau menyebut dia Sarai, tetapi Sara.” Jadi, inilah alasan yang keenam. Sebuah perjanjian diikuti dengan pergantian nama. Mulai hari itu, Abram tidak lagi disebut Abram, melainkan Abraham, sedangkan Sarai tidak lagi Sarai, melainkan Sara.

Di dalam Perjanjian Baru, ketika saudara percaya kepada Yesus dan berkata, “Yesus, saya percaya kepadaMu.”, saudara akan dilahirkan kembali, dan mulai saat itu saudara disebut orang Kristen, dan apa itu Kristen? Kristen berarti pengikut Kristus. Sehingga saat saudara percaya kepada nama Yesus, saudara menanggung nama Kristus.

Begitu juga di dalam pernikahan, banyak terjadi pergantian nama. Ketika menikah, istrinya akan mengambil nama keluarga dari suaminya, sehingga ada yang disebut Nyonya Tan, Nyonya Lim, dan lain-lain. Ini adalah tanda dari sebuah perjanjian.

Ketika saudara menandatangani kontrak rumah, apakah saudara menanggung nama dari si pemilik rumah? Tidak, bukan? Saudara tinggal di mana sekarang? Sewaktu saudara menyewa rumah di Goodwood Park, apakah nama saudara menjadi Nyonya Goodwood? atau Nyonya Park? Tidak, bukan? Perjanjian itu dibuat berdasarkan iman dan kepercayaan. Seperti Abraham masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan melalui iman, pasangan suami istri masuk ke dalam pernikahan sepenuhnya melalui iman dan kepercayaan mereka.

Pada saat saudara mengucapkan janji pernikahan saudara di altar di depan pendeta, saudara sedang mengucapkan pernyataan iman saudara. Disana saudara akan mengucapkan “ Saya mengambil engkau sebagai suami atau istri saya, untuk saya miliki dari mulai hari ini, dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan kaya dan miskin, dalam keadaan sakit dan sehat, selama-lamanya sampai maut memisahkan kita.” Padahal saat itu Anda baru berumur 22 tahun. Tetapi saudara mengucapkan komitmen untuk seumur hidup saudara. Berapa banyak yang menyadari bahwa tindakan ini adalah tindakan yang melibatkan iman saudara? Apakah saudara yakin sehingga sedemikian yakinnya bahwa saudara tidak akan pernah bercerai? Apakah hidup saudara akan senantiasa aman dan damai, tenteram, tidak pernah ada gangguan dan godaan, sehingga dengan pasti saudara akan hidup dalam membangun rumah tangga saudara dengan sukses? Apakah saudara tidak akan pernah mengalami tawar akan cinta? Apakah saudara akan selalu mencintai pasangan saudara dengan cinta yang sama selalu dan setiap saat? Saya beritahu saudara satu hal. Saudara tidak akan pernah dapat yakin 100% dalam hal ini.

Tetapi saudara mengambil langkah tersebut. Sesungguhnya dengan demikian, saudara mengambil langkah iman. Saudara mau saling percaya satu dengan yang lain sampai selama-lamanya. “Sejak hari ini hingga selama-lamanya saya berjanji untuk….” Hal ini adalah perjanjian, dan inilah alasan yang ketujuh dari sebuah perjanjian. Perjanjian ini adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan iman. Jadi, perjanjian dilakukan berdasarkan iman, bukan dengan keyakinan dan kekuatan saudara sendiri.

Begitu juga dengan kehidupan saudara dengan Kristus. Bagaimana saudara masuk ke dalam kehidupan kekristenan bersama dengan Kristus? Dengan iman tentu saja! Seperti ada tertulis, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Saudara tidak mungkin dapat menyenangkan hati Tuhan bila saudara tidak memiliki iman. Dalam kehidupan dengan Kristus, segala sesuatu bila tidak disertai dengan iman akan menjadi suatu kesia-siaan. Begitu juga dalam pernikahan saudara. Tanpa iman, saudara tidak akan pernah mungkin dapat mengasihi senantiasa dan menyenangkan hati suami atau istri kita.

Jadi jika saudara seringkali mencurigai suami saudara sedang berselingkuh, saudara tidak memiliki iman, dan saudara tidak akan pernah dapat mengasihi suami saudara. Mengapa demikian? Karena saudara tidak memiliki iman. Bila saudara tidak memiliki iman, tidak mungkin saudara akan mengasihi suami saudara, atau menyenangkan hatinya. Begitu juga sebaliknya. Jika saudara selalu mencurigai istri saudara sedang berselingkuh dengan orang lain, itu adalah tanda saudara tidak memiliki iman. Saudara tidak mungkin dapat mengasihi istri saudara seperti yang Tuhan perintahkan. Jika tidak ada kasih dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya, bagaimanakah pernikahan dapat berjalan? Jika tidak ada iman satu sama lain, bagaimana pernikahan saudara dapat berjalan? Tanpa iman, saudara tidak akan pernah dapat memiliki hubungan pernikahan yang sukses, karena perjanjian selalu didasarkan atas iman.

Sekali lagi saya katakan kepada saudara, bahwa perjanjian harus dilakukan berdasarkan iman. Jika saudara melihat seluruh tujuh poin di atas, saudara akan melihat bahwa perjanjian di dalam pernikahan memenuhi seluruh prinsip perjanjian-perjanjian alkitabiah. Ini berarti bahwa perjanjian bukanlah sebuah kontrak sosial atau hukum dengan ada klausa pembatalan yang dapat dibatalkan dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Ini juga bukanlah suatu persetujuan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal bagi diri sendiri. Tidak demikian! Ini adalah perjanjian yang dilakukan berdasarkan iman, pengharapan dan kasih.

Jadi, jika dapat diringkas dalam poin, maka tujuh alasan sebuah perjanjian adalah berbeda dengan kontrak sosial atau kontrak hukum atau persetujuan antara lain adalah : Alasan pertama adalah di dalam sebuah perjanjian ada saksi-saksi yang terlibat di dalamnya. Alasan yang kedua, perjanjian memiliki komitmen total. Alasan yang ketiga, adalah bahwa perjanjian bersifat tetap, permanen, dan tidak dapat dibatalkan oleh apapun juga. Alasan yang keempat, di dalam prosesnya, perjanjian saudara akan diuji lagi dan lagi. Alasan yang kelima, di dalam setiap perjanjian harus memiliki tanda. Alasan yang keenam adalah di dalam sebuah perjanjian diikuti dengan pergantian nama, dan alasan yang ketujuh adalah perjanjian adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan iman.

 

Sekarang, saya ingin membagikan kepada saudara mengenai 8 tujuan pernikahan. Ada delapan hal yang dapat menjadi alasan mengapa saudara menikah. Ada banyak alasan mengapa saudara menikah, akan tetapi saya akan memberikan kepada saudara delapan alasan yang mendasar.

Apakah alasan saudara menikah karena saudara tahu bahwa saudara menikah di saat suami saudara sudah tua, dan mungkin kira-kira tiga tahun dari sekarang dia akan meninggal, sehingga saudara akan mewarisi warisan darinya yang sangat besar?

Mari kita memulainya. Ada 8 tujuan pernikahan, dan untuk ini kita kembali ke dalam kitab Kejadian pasal 2:18. “Dan Tuhan berfirman, tidak baik jika manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberikan kepadanya seorang penolong yang sepadan dengan dia.” Jadi, firman Tuhan berkata bahwa tidak baik jika manusia itu seorang diri. Maka alasan yang pertama saudara menikah adalah karena pernikahan untuk menjalin kemitraan atau companionship.

Adam sangat maju dalam pekerjaannya. Dia adalah manusia yang sangat sukses. Tempat kerjanya adalah di Taman Eden. Tetapi walaupun demikian, ada satu hal yang kurang. Walaupun dia dikelilingi oleh banyak hal, dia tetap merasa sendiri. Kesepian dan kesendirian itu tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya, maka Tuhan menciptakan perempuan untuk laki-laki. Dan dari kemitraan ini, kami masing-masing menjadi lebih baik, sebagai hasil dari pernikahan.

Hal ini membawa saya kepada poin yang kedua dari tujuan pernikahan. Tujuan yang kedua dari sebuah pernikahan yaitu untuk pembentukan karakter. Pernikahan ini adalah untuk pembentukan karakter kita masing-masing. Dengan menikah, karakter kita dibentuk oleh pasangan kita. Jadi, pernikahan adalah variasi lengkap dari rutinitas sepasang orang dewasa.

Dan ada kebenaran dalam hal ini. Seseorang sebelum menikah memiliki kebebasan untuk dapat menjadi orang yang paling egois. Apa kemungkinan dari hal ini yang paling parah? Jika saudara egois, saudara akan kehilangan beberapa teman saudara, tetapi setelah saudara menikah, saudara tidak hanya tidak kehilangan teman, saudara kehilangan kebebasan yang saudara miliki untuk menjadi orang yang egois. Setelah saudara menikah, saudara tidak bisa menjadi orang yang seenaknya sendiri. Saudara tidak dapat makan apa saja yang ingin saudara makan, saudara tidak dapat tidur dan tidak bangun-bangun, saudara tidak dapat hanya menonton acara televisi yang saudara ingin tonton saja, saudara tidak dapat seenaknya saja berhenti dari pekerjaan yang saudara tidak suka, atau saudara tidak dapat pindah ke kota lain dan disana saudara ingin menjadi anggota pemain sirkus.

Berapa banyak dari saudara yang menyadari bahwa dengan menikah, saudara kehilangan kemampuan saudara untuk menjadi egois tanpa saudara memiliki kemampuan untuk membayar harga yang besar sekalipun?

Jika saudara ingin tetap menikah, saudara harus tetap berkomitmen. Ini adalah untuk pembentukan karakter saudara. Tentu akan ada konflik dan masalah di dalam setiap pernikahan, karena pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda, dengan kebiasaan yang berbeda, dan keduanya banyak memiliki kekurangan, sehingga karakter mereka masing-masing dibentuk oleh pasangannya masing-masing.

Saudara bukan pribadi yang sempurna. Pasangan saudara juga bukan pribadi yang sempurna. Pada saat saudara belajar untuk bersekutu, belajar berubah dari kekurangan-kekurangan saudara, saling melayani dan saling mengampuni untuk menderita bersama-sama, saudara akan semakin menyerupai Kristus di dalam karakter saudara. Jadi, saya tekankan sekali lagi. Pernikahan adalah proses pembentukan.

Pernikahan akan membentuk karakter saudara untuk menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Ini adalah kesempatan untuk membuat saudara dapat bertumbuh untuk menjadi pribadi yang diinginkan Tuhan. Saudara akan memiliki karakter tidak egois, setia, sabar, suka mengampuni, berbelas kasihan, bisa menerima kekurangan orang lain. Lihat, semua ini adalah untuk pembentukan karakter.

Marilah kita melihat lagi ayat ke 18. “Aku akan menciptakan seorang penolong yang sepadan dengan dia.” Jadi tujuan ketiga dalam pernikahan adalah untuk memperlengkapi.

Mari lihat ayat yang ke 21. “Dan Tuhan membuat manusia itu tertidur lelap, dan ia tertidur. Dan Tuhan mengambil salah satu tulang rusuknya, dan menutupnya kembali dengan daging, dan dengan rusuk yang diambil dari manusia itu, Tuhan membuat seorang perempuan, dan dibawaNya perempuan itu kepada manusia itu, dan Adam berkata, inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Dia akan disebut perempuan, karena dia diambil dari laki-laki.

Jadi, sewaktu Adam melihat perempuan ini, secara langsung dia melihat seseorang yang melengkapi dia, yang akan menjadikan dia utuh, dan Adam juga akan melengkapi perempuan itu, yaitu Hawa. Saudara melihat, Adam sebenarnya sudah mempunyai segala hal yang dunia bisa tawarkan, tetapi ada kekosongan di dalam dia yang tidak terisi, dan Hawa, perempuan ini, memenuhi kebutuhan ini. Hawa membuat Adam menjadi utuh. Dan Tuhan menciptakan istri untuk memperlengkapi suaminya. Jadi pernikahan adalah untuk memperlengkapi.

Lihat pada ayat yang ke 24 sekarang. “Jadi laki-laki itu akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Tujuan pernikahan yang keempat adalah untuk satu kesatuan yang baru. Pernikahan menghasilkan kesatuan yang baru. Saudara meninggalkan hubungan orangtua-anak dengan orangtua saudara untuk membentuk hubungan suami istri dengan pasangan saudara.

Jadi, kehidupan pernikahan itu seperti dua tumpukan tanah liat. Yang satu berwarna hijau tua, dan yang satunya lagi berwarna hijau muda. Lalu saudara campurkan kedua-duanya, saudara aduk keduanya, dan saudara satukan keduanya. Sewaktu saudara melihatnya dari jauh, saudara melihat satu tumpukan tanah liat berwarna hijau, tetapi jika saudara memperhatikan, saudara masih akan dapat melihat ada garis-garis hijau dengan warna yang berbeda, tetapi jika dilihat dari jauh, akan terlihat seperti satu kesatuan. Demikianlah halnya dengan pernikahan. Pernikahan seharusnya menjadi seperti ini.

Ini adalah arti dari menjadi satu daging di dalam pernikahan. Dua orang bercampur menjadi satu, dan mereka terlihat sebagai satu kesatuan. Seperti jika saya melihat istri saudara, saya juga melihat saudara. Demikian sebaliknya. Jadi, ketika saudara menjadi satu daging, suami istri bercampur menjadi satu, dan terlihat seperti satu, akan tetapi setiap individu tetap membawa kepribadian dan identitasnya masing-masing.

Jadi, dalam kehidupan pernikahan ini, terdiri dari dua kepribadian yang hidup di dalam satu kehidupan secara bersama-sama. Apakah peranan seorang istri menurut Alkitab? Istri bukanlah barang kepunyaan suaminya, melainkan istri adalah mitra suaminya. Istri adalah mitra yang sepadan dan seutuhnya bagi suaminya. Ada ikatan roh dan emosional yang terjadi antara suami dan istri begitu rupa, dan tidak ada makhluk ciptaan Tuhan lain yang dapat mengalaminya, karena ini adalah penyatuan dari dua roh, penyatuan dari dua pikiran, dan penyatuan dari dua emosi.

Tujuan yang kelima dari pernikahan adalah untuk komitmen. Sebagai komitmen seumur hidup, komitmen menuntut dua hal. Hal yang pertama, dalam pernikahan haruslah bersifat monogami. Ini berarti satu laki-laki hanya boleh memiliki satu orang istri saja. Tetapi, mungkin di antara saudara ada yang berkata, “Kong, di Alkitab ada banyak orang-orang yang memiliki lebih dari satu orang istri.” Memang ada banyak contoh-contoh poligami di dalam Alkitab, tetapi saya mau memberitahu saudara. Poligami sama sekali bukanlah rencana Tuhan bagi manusia dalam pernikahan. Dari sejak mulanya Tuhan tidak pernah merencanakan hal itu atas manusia.

Satu daging sesungguhnya berarti satu daging. Sesungguhnya seorang laki-laki tidak akan pernah dapat menjadi satu daging jika ia memiliki lebih dari satu orang istri. Satu suami hanya boleh memiliki satu orang istri.

Hal yang kedua yang dituntut dari komitmen pernikahan adalah kesetiaan. Satu daging berarti kesetiaan, pengabdian, dan komitmen. Jika saudara mengabdi kepada pasangan saudara, saudara melakukan komitmen. Tangan kiri tidak dapat berkata, “Saya mau ke kiri.” sedangkan tangan kanan berkata, “Saya tidak mau ikut.” Ini adalah hal yang mustahil. Tangan kanan harus setia kepada tangan kiri. Mata saya harus setia kepada hidung saya. Kaki saya harus setia kepada tubuh saya untuk dapat menjalankan fungsi tubuh kita dengan normal.

Jadi, arti dari satu daging adalah saudara mengabdi, dan saudara berkomitmen terhadap pasangan saudara. Kemanapun pasangan saudara pergi, saudara juga akan ada disana. Apakah sang istri ada di Taiwan, atau di New York, atau di Los Angeles, suaminya pasti ada di sana bersama-sama dengan dia, karena mereka adalah satu kesatuan, mereka adalah satu daging. Jadi ide Tuhan tentang pernikahan adalah keintiman yang dalam dan kekal di antara suami dan istri.

Di bagian ke 14 nanti, akan membahas bagaimana caranya tetap intim, dan bagaimana menjaga gairah dalam pernikahan. Bagaimana caranya menjaga gairah pernikahan tetap kuat. Saya akan mengajar semua orang bagaimana caranya untuk dapat menjadi romantis seumur hidup saudara.

Perzinahan di dalam pernikahan itu seperti menikam dari belakang. Hal ini akan membunuh pernikahan. Jadi pernikahan adalah untuk komitmen, bersifat monogami, dan menuntut kesetiaan.

Tujuan pernikahan yang keenam, pernikahan adalah untuk kenikmatan. Cara untuk menjadi satu daging, bagaimana? Cara untuk menjadi satu daging sesungguhnya hanya ada satu cara, yaitu melalui hubungan seks. Hal ini bukanlah melalui sebuah persahabatan. Saudara bersahabat dengan semua anggota komunitas atau kelompok saudara, tidak berarti saudara menjadi satu daging dengan mereka semua. Jadi, cara untuk suami istri menjadi satu daging hanya melalui seks.

Seks adalah ide dan rencana Tuhan bagi pasangan suami istri. Ini bukanlah ide dan rancangan dari manusia. Ini bukanlah ide dari majalah Playboy atau sejenisnya. Dan tentu saja, seks sama sekali bukanlah ide dari Iblis. Saya bersama staf saya membahas seks dengan terbuka. Hal ini kami bahas di kalangan kami dan kami semua dengan terbuka membicarakannya. Iblis tidak ada di dalam rancangan Tuhan pada mula-mula, tetapi Iblis datang ikut-ikutan di dalam seks, dan merusak rancangan Tuhan yang mula-mula itu. Sesungguhnya pencipta dari seks adalah Tuhan. Tuhan yang menciptakan hubungan seks menjadi indah. Akan tetapi Iblis merusak rancangan Tuhan yang indah ini untuk merusak pernikahan dan keluarga lewat perzinahan, seks bebas, dan lain-lain.

Jadi, seks adalah sarana untuk saudara dapat menikmati pasangan saudara. Mari kita lihat Amsal 5:18-19. “Bergembiralah, bersukacitalah dengan istrimu. Biarlah dadanya memuaskanmu, dan biarlah cintanya memenuhimu dengan kesukaan.” Ayat ini jelas tidak membicarakan tentang pendalaman Alkitab. Ayat ini jelas berbicara mengenai hubungan seks.

Tuhan melihat seks sebagai hal yang penting. Tuhan membuat satu kitab penuh, yaitu Kidung Agung. Pada zaman dahulu, disebutkan hanya orang yang berumur 18 tahun ke atas yang boleh membacanya, sebab kitab ini dikatakan terlalu terbuka dan terang-terangan. Akan tetapi, seks adalah ide Tuhan sendiri, karena pernikahan adalah untuk kenikmatan. Dan mengapa orang-orang menikah? Karena pernikahan itu adalah sesuatu yang menyenangkan, dan karena pernikahan adalah untuk kenikmatan. Pernikahan adalah sesuatu yang dapat dinikmati.

Tujuan yang ketujuh, pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan. Dari kenikmatan seks, barulah akan menghasilkan keturunan. Coba saudara perhatikan. Saya menyimpan tujuan menghasilkan keturunan sebagai tujuan pernikahan yang ketujuh. Hal ini disengaja, karena saya tahu banyak orang religius yang datang ke gereja tertentu, dan berkata bahwa pernikahan hanyalah untuk meneruskan keturunan. Dengar, kita bukanlah binatang. Berapa banyak dari saudara yang tau apa yang saya maksudkan? Ya, pernikahan memang adalah untuk meneruskan keturunan, akan tetapi, ini bukanlah alasan dari pernikahan yang utama dan yang pertama.

 

 

(to be continued)

AnakKu…

dari www.heartnsouls.com

 

AnakKu, sebelum matahari muncul di ufuk timur

dan sebelum ayam berkokok  memberitahukan pagi, Aku memanggil namamu namun engkau tidak terjaga.

Aku kecup keningmu, Kubelai rambutmu.

Sayang, Aku ingin bercakap-cakap dengan engkau.

Ketika sinar mentari menerobos masuki kamarmu, engkau terbangun dan hampiriKu,

“Selamat pagi Bapa…”.

Ah! saat itu juga Aku memberimu kasih karunia, anugerah,

rahmat dan pengurapan yang baru.

Ya walaupun kadang engkau bangun kesiangan lalu bergegas mandi tanpa menyapaKu.

Pun ketika engkau pergi untuk menyelesaikan tugas hari ini,

engkau membawa bekal yang telah Kusiapkan;

kasih setia, kebaikan, kemurahan, belaskasih, suka cita,

damai sejahtera, kesabaranKu

yang mengenyangkanmu yang untuk juga kau bagikan untuk teman-temanmu.

Padahal nak, kau sadari atau tidak Aku ada di tengah-tengah engkau

ketika engkau terbahak di tengah kegembiraan canda dengan teman-temanmu.

Nak, Aku menyayangimu.

 

Kau tahu anakKu, engkau menempati tempat yang teramat spesial di hatiKu

yang tidak dapat digantikan siapapun.

Tapi nak, terkadang Aku begitu sedih dan menahan hati

karena kerasnya hatimu ketika menginginkan sesuatu

yang Aku tidak izinkan atau Aku katakan,

“tunggu dulu” dan engkau tetap lakukan.

 

Ingatkah engkau, engkau pernah berkata,

” … biar kehendak Bapa yang jadi “.

Nak, nak… Aku sempat geleng-geleng kepala.

Kau tahu itu membuatKu sedih? Seakan engkau tidak percaya hatiKu.

Sungguh, Aku ingin yang terbaik bagi engkau tetapi engkau sulit mengerti Aku.

Sampai Aku sendiri harus menghajar engkau

untuk mendisplin sehingga engkau menyadari

bahwa Aku tahu apa yang terbaik bagi anakKu sendiri.

Aku hendak mengajar dan menunjukkan padamu jalan yang harus kau tempuh,

Aku hendak memberi nasehat kepadamu.

 

Lihat mataKu, tertuju padamu.

Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal

yang kegarangannya harus dikendalikan oleh tali les atau kekang

kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.

Sekali waktu engkau datang padaKu dengan air mata berderai sampai nafasmu pun tersengal.

Engkau berteriak memanggil dan mencari Aku, “Bapa, Bapa,…”.

 

Ini Aku nak, jangan takut. Aku tidak tinggalkan engkau sendirian.

Seandainya engkau bisa melihat hatiKu, pedihnya melebihi luka yang kau rasa,

pilunya Kutanggung air mataKu lebih dari engkau tanggung.

Bebanmu adalah bebanKu juga.

Selama hidupmu Aku selalu bersamamu, datang padaKu ketika engkau takut.

Aku mengurung engkau dari depan dan dari belakang, tanganKu Kutaruh atasmu.

 

Lihat kepadaKu jika engkau ragu untuk memilih dan memutuskan sesuatu

dalam engkau menempuh kedewasaanmu.

Hampiri Aku jika engkau lelah, sampai masa tuamu Aku tetap Bapamu,

sampai masa putih rambutmu pun Aku mau menggendong engkau,

bukankah Aku telah melakukannya dan Aku akan menanggung engkau terus.

Aku mau memikul dan menyelamatkan engkau.

Aku Bapamu di hari-harimu yang manis, Aku juga Bapamu di hari-harimu yang tidak manis.

Waktu engkau ditinggal teman-temanmu sendirian karena kurangnya pengertian dalam hidupmu.

 

Tak seorangpun berdiri bersama engkau ketika engkau membutuhkannya,

melupakan dan tidak menyayangi engkau, Aku tidak.

Coba kamu pikir, dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya

sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya?

Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak melupakan engkau.

 

Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tanganKu,

supaya senantiasa engkau tetap di ruang mataKu.

Sebab rasa cintaKu kepadamu selebar samudra yang tak bertepi, lebih luas lagi;

setinggi langit yang tak terbatas, lebih tinggi lagi;

sedalam lautan yang tak terselami, lebih dalam lagi.

 

Dan ketika engkau telah menyelesaikan hari ini,

Kulihat engkau terlalu lelah untuk menyapaKu.

Mari Nak, bersihkan dirimu, segarkan dengan air hidupKu

maka engkau akan mendapat kekuatan baru,

seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya,

dia berlari tidak menjadi lesu dan berjalan tidak menjadi lelah.

 

Makanlah firman yang telah Kusiapkan untukmu,

maka engkau tidak lapar lagi lalu istirahatkan dirimu

dalam hadiratKu dengan perlindunganKu.

Dan Aku akan menjaga engkau sampai menjelang hari esok

yang penuh harapan

dan Aku akan perintahkan berkat-berkatKu atasmu

pada waktu engkau tidur.

 

Selamat malam Nak…

(c) Indry Pardede

EMPAT BINATANG KECIL VS ORANG KRISTEN

 

I Yohanes 3:1 [1] berkata bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. Ini adalah sesuatu hal yang luar biasa. Jika dunia yang melakukannya, pasti perlu berpikir-pikir dan masih mengalami banyak pertimbangan dan ketakutan untuk mengangkat seseorang sebagai anak, takut orang yang akan diangkat anak adalah anak dari pelacur, atau anak orang jahat, tetapi Tuhan tidak pernah memandang status dan keberadaan kita. Siapapun kita, Tuhan mau menerima kita sebagai anak-anakNya. Sudahkah kita semua menyadari bahwa hal ini adalah status privilege yang paling tinggi yang kita miliki di dalam hidup kita?

Kalau status anak presiden saja banyak yang bisa membuat orang bangga. Padahal kekuasaan seorang presiden adalah sangat terbatas. Dalam jangka waktu yang sebentar saja, kekuasaan dari presiden itu dapat lenyap lewat lengsernya kekuasaan pemerintahannya, dan kebanggaan itu pun akan segera surut, karena begitu kekuasaan seorang manusia berganti, mereka akan menjadi biasa seperti orang-orang lainnya. Akan tetapi kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang kekal dan tidak pernah berlalu dari dulu, sekarang dan selama-lamanya, dan kita juga sekali menjadi anak Allah, selama-lamanya akan menjadi anak Allah. Sudah seharusnya kita sangat bangga dengan status anak Allah yang kita miliki karena dengan menyandang status anak Allah, berarti kita semua yang telah lahir baru dan ditebus oleh darah Kristus adalah pewaris tahta Kerajaan Allah.

Tetapi sayangnya, banyak dari kita orang-orang Kristen, mengaku dirinya adalah anak Allah, tetapi malah membuat Tuhan kita malu. Untuk melakukan pengetesan akan hubungan darah, biasanya kedokteran dan medis akan dapat membuktikannya dengan tes DNA. Begitu juga dengan status anak Allah. Kita tidak dapat mengaku diri kita adalah anak Allah, jika kita tidak memiliki DNA nya Allah.

Di dunia ini, banyak orang tua yang tidak mau mengakui anaknya sendiri, dan malah tega membuangnya. Jika dituntut banyak yang tidak mengakui anaknya sendiri, sehingga untuk membuktikan kebenaran akan status anak tersebut, banyak sekali orang di dunia yang melakukan tes DNA. Begitu juga dengan kita orang Kristen. Kita harus mau melewati pengujian atau menguji diri kita, apakah kita memiliki DNA Allah, yaitu karakter-karakter Allah? Jika kita tidak memiliki karakter Allah, apalagi tidak memiliki darah Kristus yang sebagai tanda kita ditebus, jangan sekali-kali kita mengaku diri kita adalah anak Allah. Hal ini hanya akan mempermalukan kita sendiri.

Dalam bacaan kita kali ini, kita akan mempelajari tentang sifat empat binatang kecil. Jika Firman Tuhan berkata-kata di dalam hatimu, janganlah kamu mengeraskan hatimu, tetapi biarkanlah Roh Kudus yang ada padamu berbicara dan memulihkanmu.

Dalam Amsal 30 : 24-28 [2] akan menjadi bahan utama pelajaran kita hari ini. Biasanya kita mendengar panutan dari banyak orang-orang terkemuka dan terhormat. Banyak gereja berusaha mendatangkan hamba-hamba Tuhan yang sangat terkenal dan kita menjadikan mereka panutan. Tetapi pada hari ini, Tuhan mau mengajar kita anak-anakNya untuk belajar kepada empat binatang kecil. Bukan binatang yang gagah, melainkan selain hanya binatang, mereka hanyalah binatang kecil yang mungkin diremehkan dan tidak dianggap orang. Tetapi mengapa Tuhan menuliskan keempat binatang kecil ini? Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bahwa banyak sekali orang-orang Kristen yang mengaku anak-anak Allah, tetapi sifatnya masih jauh di bawah binatang-binatang ini. Tuhan dapat memakai apapun untuk mengajar kita, anak-anakNya.

Semua status kekristenan yang kita miliki seperti kalung salib, sering pergi berziarah ke Israel, dan lain-lain sama sekali tidak dapat kita banggakan, karena status anak Allah yang memiliki DNA dan karakter Allah tidak dapat kita peroleh dari semuanya itu. Semua kegiatan kerohanian kita, tidak dapat menjadi jaminan. Tetapi saat ini Tuhan ingin mengajar kita, bahwa jika kita memiliki karakter yang dimiliki oleh keempat binatang kecil ini saja, kita sudah menjadi seorang yang luar biasa di mata Tuhan.

Hari ini kita belajar dari empat binatang kecil di atas. Tujuan kita adalah untuk menginstrospeksi diri kita yang mengaku orang Kristen. Kita yang selama ini mengaku sebagai orang paling rohani, atau orang yang paling layak disebut anak Allah, tetapi ternyata sifat dari keempat binatang kecil ini saja mungkin kita tidak punya.

Karakter dari binatang yang pertama adalah dari semut. Banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki karakter semut ini, yaitu walaupun dia sangat lemah, tetapi dia tetap dengan rajin mengumpulkan makanan di saat musim panas. Banyak sekali orang-orang Kristen yang malas sekarang ini. Janganlah kita mengaku sebagai anak Allah kalau kita adalah orang yang malas, karena Tuhan Yesus sama sekali tidak pernah malas. Firman Tuhan berkata bahwa pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, Yesus bangun untuk berdoa. Banyak orang Kristen adalah orang Kristen yang malas, karena salah paham dengan menggunakan konsep yang ada di dalam Alkitab. Banyak kita mengartikan Firman Tuhan secara harafiah dan terutama kita membaca Firman Tuhan dengan pengertian kita sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan apa arti dari Firman Tuhan yang ingin Tuhan berikan di dalam hati kita, sehingga banyak orang Kristen yang malas dan hanya ingin mendapatkan berkat-berkat Tuhan saja.

Contoh ayat Firman Tuhan yang seringkali disalah artikan misalnya di Mazmur 127:1-2 [3]. Semut adalah rajin, ia mengumpulkan makanan pada musim panas, sementara orang-orang Kristen banyak yang malas-malasan, hanya menunggu berkat tercurah dari langit. Hal yang seperti ini tidak akan pernah terjadi di dalam hidup kita. Tuhan tidak akan memberikan berkat kepada pemalas. Bahkan firman Tuhan sendiri berkata bahwa siapa yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Orang-orang Kristen banyak yang menyalah artikan Firman Tuhan di awal dari Mazmur 127 di atas. Jika kita hanya malas-malasan dan hanya tidur sepanjang hari menunggu berkat Tuhan, sesungguhnya berkat itu tidak akan pernah datang kepada kita, sampai kapanpun kita menunggu dan berharap. Yesus tidak pernah malas-malasan. Dia adalah pribadi yang rajin dan pekerja keras. Sebelum Dia melayani, Dia yang memiliki orang tua jasmani seorang tukang kayu, Yesus bekerja keras membantu penghidupan keluargaNya. Jika orang Kristen hanya malas-malasan saja, janganlah mimpi dan berharap bahwa kita akan diberkati oleh Tuhan.

Janji Tuhan ada di Yohanes 10:10 b. [4] Ini adalah janji Tuhan kepada anak-anakNya. Kita semua dijanjikan akan hidup yang berkelimpahan, tetapi mengapa banyak orang Kristen yang tidak mengalami janji Tuhan ini? Ada ayat Firman Tuhan yang akan menegur kita, bila kita tidak mendapatkan janji Tuhan akan hidup yang berkelimpahan. Kita dapat melihatnya di kitab Amsal 6:9-11 [5] yang dengan tegas menegur kita. Jika engkau malas, maka kemiskinan akan segera menghampirimu. Tuhan tidak pernah memberikan kemiskinan kepada kita, anak-anakNya. Tetapi kebiasaan kita yang senang berbaring dan bermalas-malasan yang mengakibatkan kemiskinan datang.

Firman Tuhan di Mazmur 127 memang menyebutkan anak-anakNya walaupun tidur akan tetap diberkati. Hal ini memang benar, dimana artinya dalam melakukan segalanya, kita tidak perlu melakukannya dengan stress dan tidak memiliki pengharapan. Jika kita adalah orang benar, kita tetap bekerja, tetapi setelah kita bekerja, kita dapat tidur dengan nyenyak tanpa merasa kuatir akan semua harta benda yang dimiliki, karena kita yakin bahwa kita berada dalam lindungan tangan Tuhan. Banyak sekali orang yang dengan lelah bekerja, dan memiliki uang yang sangat banyak, tetapi tidak dapat tidur dengan nyenyak karena selalu takut dan kuatir akan hartanya diambil orang atau dirampok, sehingga otaknya berputar terus siang dan malam tanpa damai sejahtera.

Firman Tuhan yang menyebutkan bahwa di saat kita tidur kita akan diberkati adalah dimana kita sudah bekerja dari pagi hari. Kita tidak dapat hanya makan dan tidur saja. Kita datang ke dunia ini adalah untuk berkarya, karena setiap manusia yang diciptakan, terlebih yang adalah anak-anak Allah, memiliki tugas khusus dari Tuhan. Lewat binatang pertama yang rajin ini, yaitu semut, kita memperoleh suatu pelajaran yang baik. Kita tidak perlu belajar dari hamba Tuhan yang luar biasa seperti Benny Hinn, karena masih sangat banyak dari kita yang masih kalah dibandingkan dengan semut.

Kemiskinan bukanlah milik orang Kristen. Tuhan Yesus berkata dalam FirmanNya bahwa anak-anakNya tidak akan meminta-minta roti. Banyak orang bisa jatuh miskin kebanyakan bukan karena tekanan hidup, tetapi jauh lebih banyak dikarenakan karena dari dalam dirinya sendiri, yaitu karena malas.

Ada satu ayat lagi yang sering menimbulkan salah persepsi, dan seringkali digunakan oleh orang Kristen. Maka dari itu, orang-orang Kristen yang memiliki pengetahuan akan Firman Tuhan tanggung-tanggung akan salah mengartikan Firman Tuhan ini dan akan membahayakan diri sendiri. Matius 7:7-8 [6] dapat kita baca, dimana perikopnya adalah tentang pengabulan doa. Berdoa memang sangatlah penting, tetapi tidaklah cukup hanya dengan berdoa saja, tetapi ada bagian kita yang harus kita lakukan. Tuhan Yesus tidak suka dengan orang Kristen yang malas. Sesungguhnya transformasi bagi orang-orang percaya tidak akan terjadi kalau kita tidak mengambil tindakan apa-apa. Dalam menjalani kehidupan ini saja kita sudah diberi tugas Amanat Agung oleh Tuhan Yesus, yaitu membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Jadi, di dalam menjalani hidup ini, kita tidak boleh bermalas-malasan. Kita harus berkarya dan mengisi kehidupan ini dengan maksimal.

Tuhan tidak pernah tiba-tiba mendatangkan berkat dari langit. Memang segala berkat adalah Tuhan yang menyediakan, tetapi untuk memperoleh berkat-berkat Tuhan, kita tidak dapat menunggu seperti hujan dari langit. Keluaran 16:16-18 [7] adalah contoh yaitu dimana waktu Tuhan memberikan manna kepada bangsa Israel. Tuhan menurunkan manna dari langit, tetapi orang Israel harus memungut manna tersebut untuk mendapatkan manna, tidak bisa berdiam diri saja. Tuhan juga sudah memberikan berkat kepada kita, tetapi kita harus melakukan bagian kita, yaitu bekerja dan berusaha. Maka Tuhan akan memberkati pekerjaan dan usaha kita.

Kalau kita malas, tidak mau bekerja, tidak mau sekolah, jangan pernah mimpi untuk menjadi kaya dan hidup berkelimpahan. Semua itu harus didapatkan dengan bekerja dan berusaha. Tuhan mau kita bekerja dan berusaha. Ini adalah bagian yang harus kita lakukan, dan Tuhan mau kita melakukan bagian kita. Setelah kita melakukan bagian kita, barulah Tuhan akan melakukan bagianNya, yaitu melimpahkan berkat-berkatNya kepada kita.

Ada satu pribadi yang dapat menjadi contoh buat kita. Kita dapat belajar dari semut, dan dari pribadi salah satu dari 12 murid Yesus yaitu Simon Petrus. Dalam Lukas 5:1-6 [8] menunjukkan bahwa Tuhan memberi berkat berkelimpahan kepada Petrus di dalam ayat ini. Di sana saat itu tentunya banyak sekali nelayan dan perahu. Tetapi mengapa Petrus yang dipilih oleh Tuhan? Karena Petrus sudah melakukan bagiannya, dimana ia sudah bekerja keras semalaman.

Tuhan tidak pernah memberi berkat berkelimpahan kepada orang yang malas. Akan tetapi dalam bekerja, kita juga harus mengandalkan Tuhan. Bekerja keras mati-matian itu baik, tetapi jika kita dalam bekerja tidak mengandalkan Tuhan, maka pekerjaan kita akan sia-sia. Harus mengandalkan Tuhan, karena Tuhan yang memberikan berkat kepada kita. Petrus bekerja mati-matian sepanjang malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi waktu Tuhan Yesus ikut campur tangan di dalam pekerjaan yang Petrus lakukan, Petrus mendapatkan hasil yang luar biasa.

Begitu juga dengan pelayanan kita, haruslah dengan gigih kita melayani Tuhan. Kalau kita dalam mencari jiwa asal-asalan, tidak akan pernah menuai jiwa dalam pelayanan kita. Orang-orang yang diberkati Tuhan pasti adalah orang yang memiliki perjuangan dan kerja keras di dalam hidupnya. Orang yang malas-malasan tidak mungkin diberkati Tuhan dalam hidupnya. Jadi bekerja keras itu bukan konsep dunia dan tidak rohani, tetapi justru Tuhan sendiri mau agar kita bekerja keras, tetapi haruslah juga dalam usaha kita, kita menggantungkan semua pengharapan dan usaha kita kepada Tuhan Yesus. Kalau kita mau diberkati luar biasa, kita tidak boleh menjadi pemalas.

Binatang kedua dari kitab Amsal yaitu pelanduk seperti tertulis di Amsal 30:26 [9]. Ini adalah berbicara tentang semangat yang tidak pernah padam. Walaupun dia lemah, tetapi dapat membuat rumah di bukit batu. Untuk menjadi pengikut Kristus, ternyata bukan hanya memerlukan rajin, tetapi semangat baja. Orang Batak dan orang Chinese dikenal dengan etos kerja kerasnya. Banyak dari mereka bekerja mati-matian dan menjadi kaya. Akan tetapi, hendaknya janganlah kita mencari uang saja, tetapi juga mencari Tuhan. Kita tidak boleh mudah menyerah dan mudah tersinggung kalau tidak mendapatkan apa yang kita mau. Di akhir zaman ini, kita harus menjadi orang yang tetap teguh dan semangat walaupun banyak pengharapan kita tidak kunjung datang.

Tuhan Yesus sendiri tidak selamanya selalu mengabulkan permohonan kita. Ada kalanya Dia juga menjadi raja tega, dan tidak selamanya menjadi raja Damai. Maka dari itu, jika kita tidak memiliki semangat pantang menyerah di dalam hidup kita, suatu saat pasti kita tidak akan kuat. Dalam Matius 15:22-28 [10] menunjukkan bahwa ada kalanya kita berdoa, tetapi tidak mendapatkan jawaban Tuhan. Begitu juga dengan perempuan Kanaan ini. Dia tidak mudah menyerah. Sewaktu permohonannya tidak dijawab, dia semakin tidak menyerah untuk meminta kepada Tuhan. Banyak orang Kristen yang doanya sewaktu tidak dijawab oleh Tuhan, langsung marah dan ambil langkah mundur dari gereja dan pelayanan. Ini adalah mental yang sangat parah dan tidak akan bertahan di akhir zaman yang akan penuh dengan kesukaran.

Dalam ayat ini, Tuhan Yesus menyetarakan perempuan Kanaan ini dengan anjing. Tentunya ini akan membuat kita tersinggung. Banyak orang-orang yang terkena makian saat ia bekerja atau terkena kata-kata yang tidak menyenangkan langsung sakit hati dan marah. Jika kata-kata itu kita terima dari pimpinan kita saat kita bekerja, ada kalanya kita menjadi marah, dan tidak mau bekerja lagi karena merasa sakit hati. Pada zaman sekarang ini, kita tidak boleh mudah menyerah akan hal-hal semacam itu, akan tetapi harus memiliki semangat dan pantang menyerah di dalam hidup kita. Tekanan kecil yang datang di dalam diri kita hendaknya tidak membuat kita mudah putus asa dan menyerah.

Banyak sekali orang Kristen yang mudah menyerah, dan tidak memiliki mental baja, terutama dalam pelayanan dan kehidupan bergereja. Banyak orang Kristen yang mundur dari Tuhan karena merasa sakit hati setelah disakiti rekan sepelayanan dan sesama jemaat gereja. Jika kita mudah menyerah dan memiliki mental yang mudah menyerah, mudah mundur, kita tidak akan mendapatkan promosi Tuhan, dimana Tuhan berjanji menempatkan orang-orang percaya pilihannya sebagai kepala dan bukan menjadi ekor. Promosi Tuhan ini hanya berlaku bagi kita yang berlaku seperti pelanduk, tidak mudah mundur dan menyerah sewaktu menghadapi masalah dan tekanan, tetap memiliki semangat baja dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang.

Lukas 15:25-31 [11] adalah contoh dari cerminan diri kita sebagai anak-anak Tuhan yang mudah marah dan tersinggung. Misalnya dalam pelayanan, ada orang-orang yang baru beberapa bulan melayani dan berjemaat di gereja kita, tetapi diangkat di satu posisi di gereja, atau diangkat menjadi pemimpin dalam suatu organisasi, dan kita sebagai jemaat yang sudah bertahun-tahun dan tidak mendapat posisi tersebut menjadi marah. Ada kalanya kita demikian, dan akhirnya karena merasa tidak adil, kita keluar dari rumah Tuhan, dan kita sendiri yang mendapatkan kerugian karena iri hati tadi. Padahal dalam melayani Tuhan, Tuhan tidak pernah melihat apa posisi kita dalam melayani Tuhan.

Si sulung dalam ayat tadi juga berkata bahwa ia belum pernah sekalipun mendapatkan kambing untuk berpesta dengan sahabat-sahabatnya. Kita sebagai anak raja yang tinggal serumah dengan raja segala raja, tidak seharusnya berpikir demikian. Kita adalah pewaris kerajaan Surga, dan apa yang dimiliki oleh Bapa adalah milik kita juga, dan janganlah marah jika ada orang lain yang masih baru tetapi mendapatkan kepercayaan atau Tuhan taruh menjadi pemimpin atas kita di dalam gereja.

Kita juga janganlah meributkan hal-hal yang sepele dengan Tuhan seperti orang yang tidak berpengharapan. Janganlah kita mengeluh akan hal-hal sepele yang dikaitkan dengan perumpamaan “kambing” tadi, seperti penyakit kita, biaya hidup kita sehari-hari, dan keperluan-keperluan kita. Kita sebagai anak-anak Tuhan sudah pasti akan Tuhan pelihara seperti janjiNya di dalam firmanNya. Masa depan yang penuh harapan, berkat, damai sejahtera, kesembuhan, dan segala hal yang dimiliki oleh Tuhan Yesus akan menjadi milik kita juga, yang adalah anak-anakNya yang menjadi pewaris rumah Tuhan.

Orang yang bermental rendah terlihat dari gaya hidupnya yang kurang bergairah dalam mengerjakan apapun dan melakukan apapun. Akan tetapi orang yang memiliki semangat dari dalam dirinya, ada spirit terpancar di wajahnya bila bertemu dengan seseorang. Tata krama tidak pernah mengajarkan kita untuk lemah gemulai dan bersantai-santai. Dalam menjalani hidup kita, kita harus menjalaninya dengan penuh semangat dan gairah, karena sikap yang terpancar dari diri kita, perkataan yang keluar dari mulut kita, dan apa adanya kita akan menunjukkan bagaimana sebenarnya mental yang ada di dalam diri kita, apakah kita bermental baja seperti pelanduk atau tidak.

Si sulung dalam cerita anak yang hilang tadi, karena marah, hampir ingin pergi meninggalkan rumah bapanya. Kalau dia pergi, dia akan kehilangan semua berkat dan fasilitas yang tersedia di rumah bapanya. Alangkah disayangkan jika kita sebagai orang Kristen yang mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan mudah marah, dan ingin keluar dari rumah Tuhan karena peristiwa yang sepele. Kita harus memiliki mental baja dan tidak mudah menyerah dan tersinggung, supaya berkat Tuhan terus melimpah bagi kita.

Mengapa kita tidak boleh mudah mundur dan menyerah? Ini bukan hal sepele. Dalam Yohanes 21:1-3 [12] dapat kita lihat bahwa seharusnya jika murid-murid Tuhan berkumpul dan bertemu dengan Yesus, seharusnya mereka tinggal bersama dengan Yesus dan bukan pergi mengerjakan hal-hal lain. Tuhan Yesus waktu itu menampakkan diri kepada mereka, tetapi mereka tidak mengindahkan, melainkan ingin pergi menangkap ikan, sehingga usaha mereka waktu itu menjadi gagal total, karena mereka pergi dan berusaha tanpa dengan penyertaan dan campur tangan Tuhan.

Roh yang menyala-nyala adalah modal kita dalam menghadapi situasi akhir zaman seperti sekarang ini, dan janganlah kita menjadi patah semangat, karena akan fatal akibatnya. Jika kita tidak memiliki semangat lagi, mulai lemah, dan mulai tidak bersemangat dalam hidup, dalam Amsal 24:10 [13] menunjukkan bahwa kita tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi persoalan kita. Pada zaman sekarang ini Iblis sedang terus menerus menyerang orang-orang Kristen seperti di kitab Wahyu 12:12 [14], agar menjadi lemah, dan Iblis sedang berusaha habis-habisan untuk menghancurkan anak-anak Tuhan karena ia tahu bahwa waktu baginya telah singkat. Maka kita harus terus berjaga-jaga, dan kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi lemah, karena jika tidak demikian, kita tidak akan mampu melawan.

Kita harus dengan semangat mendeklarasikan Firman Tuhan dan janji-janjiNya atas kita supaya semuanya itu menjadi kekuatan bagi kita. Mungkin saat ini kita sedang dalam masalah dan kesulitan, tetapi janganlah semuanya itu membuat kita menjadi lemah, tetapi kita harus tetap semangat dan dengan mental baja memperkatakan Firman dan janji-janji Tuhan yang pasti Tuhan genapi di dalam hidup kita. Waktu kita menghadapi masalah, kita harus mempunyai sumber kekuatan seperti Daud waktu ia melawan Goliat di I Samuel 17:40-47 [15] agar kita tidak mudah menyerah dan menjadi tawar hati. Goliat pun akhirnya kalah, karena mental Goliat sudah runtuh dalam perang dan keyakinan Daud akan mengalahkan Goliat sangat tinggi karena Daud menggunakan deklarasi Firman dan nama Tuhan untuk menghancurkan mental Goliat. Jika lawan kita sudah hancur mentalnya, ia akan mudah sekali kalah. Orang Kristen tidak boleh memiliki mental yang lemah dalam menghadapi setiap permasalahan kita, karena kita tidak menghadapi masalah kita sendirian, tetapi kita menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Binatang ketiga dari pelajaran kita ini adalah belalang seperti di Amsal 30:27 . [16] Ini berbicara mengenai kedisiplinan. Melayani Tuhan tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.

Apabila kita melaksanakan ibadah, kita tidak bisa asal-asalan datang kebaktian, tetapi harus dengan disiplin, kerena hanya mereka yang disiplin, yang akan benar-benar mendapatkan upah dari pada Tuhan. Kedisiplinan ini sangatlah penting, sebagaimana Firman Tuhan juga telah memberitahu kita di kitab Ibrani 11:6 [17] Ayat ini menunjukkan kita, bahwa ternyata upah dari Tuhan bukanlah hanya untuk orang yang melayani Tuhan saja, tetapi Tuhan juga memberikan upah kepada setiap orang yang dengan disiplin dan bersungguh hati mencari Tuhan. Tuhan menghargai orang-orang yang tidak asal-asalan, tetapi mereka yang dengan penuh kedisiplinan dan kesungguhan mendekatkan diri kepadaNya.

Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Keberadaan kita ini memang adalah sesuatu yang baik, tetapi keberadaan kita yang baik tidak cukup untuk membuat Allah bahagia atas kita. Yang membuat Allah disenangkan adalah jika kita tidak memiliki kepribadian yang asal-asalan, tetapi berkualitas dan penuh kedisiplinan dalam menjalani hidup. Di dalam tubuh kita ada Roh Allah, sehingga itulah kita disebut Bait Allah. Maka dari itu, kita tidak boleh asal-asalan terhadap tubuh kita dan hidup kita. Dalam hidup ikut Tuhan, kita harus dengan disiplin menjaga hidup kita, terutama menjaga kekudusan. Kita tidak bisa ikut Tuhan tetapi tetap membiarkan segala yang kotor masuk ke dalam tubuh kita, hidup kita, dan hati kita. Kita harus dengan teguh menjaga tubuh kita yang adalah Bait Allah, tempat dimana Allah tinggal ini tetap kudus, karena Allah adalah kudus.

Tuhan bukan mencari manusia yang kudus, karena setiap orang pernah berbuat dosa, sehingga tidak ada satu orang pun di dunia ini yang kudus. Yang Tuhan cari adalah orang yang menjaga kekudusan. Walaupun ia berbuat salah, ia meminta ampun dari dosanya, dan tidak mengulangi dosa sedemikian lagi. Tuhan menghendaki kita kudus, karena Tuhan adalah pribadi yang kudus. Kekudusan dengan dosa tidak dapat disatukan, lebih daripada air dengan minyak. Maka dari itu, kita harus terus dengan disiplin menjaga kekudusan, agar Tuhan tetap dapat disenangkan saat tinggal di dalam kita.

Daud dikatakan Alkitab adalah orang yang berkenan kepada Tuhan, padahal kita mengetahui bahwa Daud telah membunuh Uria dan mengambil istrinya. Pembunuhan Uria ini adalah pembunuhan yang berencana. Tetapi waktu teguran Tuhan datang dari nabi Natan, Daud mengoyakkan pakaiannya dan mengaku akan dosa-dosanya, mengaku dirinya adalah orang yang berdosa. Oleh karena itu, Tuhan tetap tinggal di dalam hidup Daud, dan Daud diperkenan oleh Allah.

Lain halnya dengan Saul. Roh Kudus akan tinggal di dalam hati kita waktu kita menerima Tuhan Yesus, akan tetapi apabila kita tidak menjaga kekudusan, Roh Kudus akan pergi meninggalkan kita. Hal ini bukanlah hal yang main-main, karena Roh Kudus yang sudah tinggal di dalam hidup kita dapat meninggalkan kita apabila kita tidak menjaga kekudusan kita. Mengenai hal ini dapat kita lihat di 1 Samuel 16:14 [18]. Roh Allah mundur daripada Saul, walaupun mungkin kesalahan yang dilakukan Saul bukanlah kesalahan yang besar menurut pandangan kita, sedangkan Daud pernah melakukan kesalahan yang fatal, tetapi dia mengakui dosanya dan meminta ampun kepada Tuhan, sehingga Tuhan tidak pernah meninggalkannya.

Roh Allah meninggalkan Saul karena dia tidak mentaati perintah Tuhan, dimana dia tidak membunuh semua orang Amalek seperti yang diperintahkan kepadanya, melainkan mengambil lembu-lembu yang gemuk-gemuk dengan alasan untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Ada dosa yang membelenggu kita yang seringkali dinamakan dosa kesayangan, yang selalu kita lakukan seringkali. Misalnya dosa seks, dan merokok. Walaupun Alkitab tidak secara langsung menuliskan tidak boleh merokok, tetapi Alkitab menuliskan dengan jelas bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus yang harus kita jaga dengan baik. Dunia saja tau bahwa merokok dapat mengakibatkan kanker, kegagalan kandungan, dan lain-lain. Maka dari itu, kita sebagai orang Kristen harus bijaksana dan harus dengan disiplin melawan kedagingan kita untuk merokok. Dalam mengikut Tuhan, tidak boleh kita lakukan dengan setengah-setengah, tetapi memerlukan kedisiplinan yang tinggi.

Kita dapat melihat contoh kehidupan Tuhan Yesus waktu di dunia ini. Tuhan Yesus tidak menjalani hidupNya dengan asal-asalan, tetapi penuh kedisiplinan menjalani kehendak BapaNya. Tetapi sekarang ini banyak orang Kristen, bahkan hamba-hamba Tuhan, dan mereka yang melakukan pelayanan di gereja, hidupnya asal-asalan dan tidak menjaga kekudusan. Belalang saja di dalam pelajaran kita kali ini adalah binatang kecil yang memiliki sikap kedisiplinan dalam hidupnya, tetapi orang Kristen banyak yang masih harus belajar banyak tentang kedisiplinan dari belalang.

Kita harus dengan disiplin berjaga-jaga di dalam hidup kita, karena Iblis ada dimana-mana, termasuk di saat kita kebaktian. Dalam Ayub 1:6 [19] dan Ayub 2:1 [20] menyebutkan bahwa Iblis juga dapat menemui Tuhan.

Kita harus memulihkan diri kita dari pada segala dosa kita. Dosa sebanyak apapun dapat Tuhan ampuni dan tidak menjadi masalah, asalkan kita mau datang kepadaNya, mengakui, meminta pengampunan dari pada Tuhan, dan meninggalkan dosa-dosa kita tersebut. Adakan rekonsiliasi dalam hidup kita setiap saat agar Tuhan terus menerus memulihkan kehidupan kita menjadi kehidupan yang senantiasa diperbaharui dari segala perbuatan dosa dan kelemahan kita. Untuk datang kepadaNya kita dapat datang kapan saja kita mau. Tuhan Yesus kita adalah Tuhan yang mengatasi ruang dan waktu. Kapan saja dan di mana saja kita mau datang kepadaNya, Dia selalu berkenan ditemui dan selalu mau untuk memulihkan kita.

Kita harus menjaga senantiasa kekudusan hidup kita dan harus selalu melakukan pemberesan kepada Tuhan karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita mati, maka dari itu kita harus selalu berjaga-jaga.

Binatang terakhir yang kita pelajari hari ini adalah cicak. Amsal 30:28 [21] menunjukkan bahwa cicak ada dimana-mana. Ini adalah arti dari sikap fleksibel. Banyak orang yang tidak memiliki sikap ini. Sikap fleksibel berarti mudah adaptasi dimanapun dan sikap ini sangat disukai orang. Seringkali orang Kristen memiliki sikap eksklusif, dimana kita mengkhususkan diri kita dan tidak mau bergaul dengan semua orang. Hal ini adalah kebiasaan yang tidak baik. Kita tidak boleh berkumpul saja sesama orang Kristen dan menamakan diri kita sebagai kelompok terang dan menghakimi orang-orang yang belum beroleh keselamatan sebagai kelompok gelap. Persoalan keselamatan ke surga adalah anugerah Tuhan dan bukan usaha kita, maka dari itu kita tidak boleh mengkhususkan diri sebagai orang-orang yang diselamatkan dan tidak mempedulikan keselamatan mereka yang belum mengenal Kristus. Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk semua orang berdosa, terutama mereka yang belum mengenal Kristus. Maka dari itu kita tidak boleh mengeksklusifkan diri dan tidak mau bergaul dengan orang-orang yang belum beroleh keselamatan.

Semakin terbuka diri kita akan pergaulan dimana-mana, akan membuka transformasi terjadi dimana-mana. Kita harus terbuka dan mau menabur kasih kepada siapa saja, supaya mereka dapat mengenal Yesus dari kasih yang kita bagikan. Jangan kita hanya mempedulikan orang-orang Kristen saja, tetapi semua manusia dikasihi oleh Allah dan Tuhan Yesus ingin kita membagikan kasih yang sudah kita terima kepada mereka semua.

Banyak gereja-gereja mengeksklusifkan diri, dan parahnya dijadikan tempat mencari keuntungan dengan hanya mengundang orang-orang yang kaya saja. Gereja seperti ini tidak diperkenan oleh Tuhan. Gereja harus menjadi rumah yang terbuka bagi siapa saja yang mau datang kepada Tuhan. Gereja seharusnya menjadi tempat untuk menjaring jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan, dari golongan manapun orang itu datang. Sebagai pengurus gereja juga kita tidak boleh memilih-milih orang untuk pekerjaan Tuhan. Misalnya dengan mengangkat orang yang kaya dan punya kedudukan di salah satu posisi di gereja dengan harapan memperoleh banyak kemudahan dari orang tersebut, atau dengan mengangkat orang-orang yang dekat saja untuk bekerja bersama-sama dalam pelayanan. Sikap-sikap seperti ini sangatlah tidak berkenan di hati Tuhan.

Cicak menunjukkan sikap yang supel, dimana sikap ini sulit ditemukan di dalam pribadi orang Kristen. Harusnya ciri-ciri orang Kristen adalah seperti yang tertulis di Kisah Para Rasul 2:47 [22]. Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dilahirkan kembali, selayaknya sikap ini ada di dalam hidup kita. Ayat ini berbicara mengenai jemaat mula-mula. Mereka disukai semua orang. Dalam ayat sebelumnya di Kisah Para Rasul 2:41 [23] lebih menunjukkan demikian. Banyak orang menyukai Petrus yang telah diurapi Roh Kudus, sehingga dalam satu hari, tiga ribu orang menerima perkataan yang diucapkan oleh Petrus, percaya dan diselamatkan.

Apabila kita mempelajari kehidupan Yesus, kita dapat melihat bahwa dimana Yesus ada, disana ada kerumunan orang banyak yang ingin mengenal lebih dekat siapa Tuhan, dan kerumunan orang menunjukkan bahwa banyak orang menyukai Dia. Apakah kita sebagai orang Kristen adalah orang-orang yang disukai oleh banyak orang? atau malah dibenci orang?

Janganlah kita menjadi orang yang eksklusif sehingga dibenci orang, tetapi biarlah kita belajar dari sikap cicak, dimana sikap yang supel disukai semua orang sehingga akan ada orang-orang yang tertarik untuk mengenal diri kita karena pribadi Tuhan Yesus yang ada di dalam diri kita memancar dari sikap dan kehidupan kita.

Untuk dapat memenangkan banyak jiwa, bermula dari sikap kita dahulu. Kita harus menjadi pribadi yang disukai orang dan membuat orang tertarik dan senang kepada kita. Kita sebagai orang-orang Kristen adalah Alkitab yang terbuka bagi orang-orang yang belum diselamatkan. Apakah sikap kita mencerminkan pribadi Yesus? karena sikap kita akan menentukan orang-orang akan tertarik dan mau mengenal Yesus yang kita sembah dari sikap dan kehidupan kita, anak-anakNya.

Sikap kita harus dijaga senantiasa baik bukan hanya di gereja, tetapi terlebih waktu kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Karena di waktu itulah kita berbaur dengan banyak orang dan orang-orang akan menilai kita sebagai orang Kristen, apakah orang Kristen adalah orang yang berbeda dan memiliki citra Kristus di dalamnya.

Kita sebagai orang Kristen harus mau masuk di kalangan manapun. Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang statis, tetapi harus misioner. Seperti rasul Paulus yang berkata, “ Di kelompok Yahudi, aku menjadi orang Yahudi, dan di kelompok Yunani, aku menjadi orang Yunani. “

Dalam membawa jiwa, hendaknya kita membangun dahulu hubungan dan persahabatan dengan orang-orang. Jika hubungan dan persahabatan sudah terbentuk, memenangkan jiwa adalah sesuatu hal yang mudah. Penginjilan jangan melakukan dengan keras berdasarkan Alkitab, apalagi dengan mendeklarasikan bahwa semua yang tidak percaya akan menerima hukuman kekal di neraka. Hal ini tidak akan mendatangkan jiwa-jiwa kepada Kristus.

Tetapi apabila kita membawa kasih dan persahabatan kepada setiap orang, orang akan dapat melihat dan merasakan perbedaan dari sikap kita, dan senang akan diri kita. Jika keadaan ini sudah terjalin, mereka akan mudah menerima apa yang kita katakan. Banyak orang Kristen tidak dapat memenangkan jiwa karena mereka terlalu kaku, dan tidak mau bergaul dengan semua orang.

Ada dua hal yang membuat orang-orang tidak mau mencari Tuhan Yesus, dan ini dikarenakan oleh sikap orang Kristen. Sikap-sikap orang Kristen sendiri yang membuat transformasi dan memenangkan jiwa menjadi terhambat. Sikap yang pertama dapat kita lihat di kitab Yakobus 3:7-9. [24] Perkataan kita seringkali membuat orang-orang menjauh dari kekristenan, dan tidak mau mengenal Tuhan Yesus yang kita sembah. Seringkali perkataan yang menyakitkan keluar dari mulut kita dan membuat orang lain sakit hati.

Kita adalah surat Kristus yang terbuka. Dengan perkataan yang kita ucapkan menyebabkan kita tidak menjadi kesaksian tentang Tuhan kita kepada orang lain. Seringkali kita mau membawa orang-orang kepada Tuhan, tetapi kita lupa mengontrol perkataan kita, sehingga tidak ada orang yang mau mendengarkan kesaksian kita akan Tuhan Yesus. Perkataan kita bahkan dikatakan Firman Tuhan lebih buas daripada binatang-binatang buas. Binatang liar saja bisa dijinakkan, tetapi lidah kita seringkali tidak terkuasai dan mematikan.

Sekarang ini, banyak sekali provokator dapat ditemukan di dalam gereja. Mulut yang digunakan untuk memuji Tuhan, juga digunakan untuk bergosip. Banyak sekali provokator di gereja dibuktikan oleh perpecahan gereja-gereja dimana-mana, tidak ada kesehatian di dalam jemaat, melainkan lebih senang menjelek-jelekan kekurangan orang lain. Kemelut dan perpecahan yang terjadi di dalam banyak gereja-gereja Tuhan dimana-mana dapat dipastikan karena perkataan yang tidak dapat dikuasai.

Istri hendaknya jangan berkata kasar dan menyakiti suaminya. Ada kalanya mungkin suami tidak dapat membawa uang pulang ke rumah. Janganlah dengan perkataan yang tajam mengkritik kekurangannya, tetapi hendaknya memberi dukungan dan memperjuangkan setiap masalah yang ada bersama-sama.

Seringkali perkataan kita membuat banyak orang tidak mau mencari Tuhan Yesus. Ada kalanya salah satu baik suami atau istri belum beroleh keselamatan. Seharusnya kita memberikan perhatian dan perkataan yang penuh kasih. Jika kita memaki atau menyakitinya dengan perkataan kita, maka istri atau suami kita akan semakin jauh dari pertobatan. Tuhan tidak senang dengan orang Kristen yang dengan perkataannya membuat orang-orang menghindar dan menjauhi kekristenan. Tuhan senang apabila kita dengan perkataan kita dapat membawa pertobatan jiwa-jiwa kepada Tuhan.

Sekarang ini banyak orang Kristen yang tidak lagi datang ke gereja. Ini dikarenakan perkataan yang mereka terima dari orang-orang di gereja. Perkataan sesama jemaat yang seharusnya memperkatakan kasih, malah membuat sakit hati, sehingga banyak orang-orang Kristen menjadi tawar hatinya. Kata-kata yang menyakitkan juga banyak diterima orang dari pemimpin gereja, baik gembala, rekan pelayanan, bahkan dari hamba-hamba Tuhan yang memberitakan firman.

Kita harus menjaga perkataan kita. Daripada kita salah bicara dan menyakiti orang lain, lebih baik kita menutup mulut kita dan jangan bicara. Manusia dalam hidupnya memang pasti berbicara banyak, terutama dalam hal ini perempuan. Menurut penelitian, perempuan berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Maka dari itu, daripada kita berbicara akan hal-hal yang sia-sia, lebih baik kita menggunakan waktu kita untuk berbicara kepada Tuhan. Alangkah baiknya bila kita menghabiskan banyak waktu kita untuk berbicara dengan Tuhan, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut kita bukanlah kata yang sia-sia dan menyakitkan orang.

Ada kalanya mungkin suami pulang malam. Kita janganlah memarahinya dan memaki-maki. Tetapi hendaknya kita menanyakan dengan baik-baik. Hal ini dapat dilakukan apabila kita memiliki banyak waktu yang dihabiskan bersama Tuhan. Apabila kita banyak berkata-kata dengan Tuhan, kita akan dipenuhi dengan kasih, lepas dari kecurigaan dan kekuatiran, terutama pemikiran-pemikiran yang negatif yang muncul di pikiran kita dari pengaruh roh jahat. Apabila sebagai istri menekan dan menyalahkan suami, maka lebih besar kemungkinan akan menjadi benar-benar terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perkataan kita hendaknya dapat kita jaga, karena perkataan kita memegang kendali atas hidup kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa dapat mengendalikan lidahnya, dia dapat mengendalikan seluruh dirinya.

Janganlah kita mendakwa dan menghakimi, karena penghakiman adalah hak Tuhan. Apabila ada yang menyakiti hati kita, lebih baik kita mendoakannya dan Tuhan akan memulihkan hubungan kita dengan dia yang rusak tersebut.

Hal kedua yang diperbuat orang Kristen yang membuat orang-orang yang tidak percaya menjadi semakin menjauhi kekristenan adalah hati yang tidak memiliki ketulusan. Tuhan sendiri berpesan di dalam Matius 10:16 [25] supaya kita memiliki hati yang tulus. Tuhan menggambarkan ketulusan dengan burung merpati, karena ketulusan sudah merupakan sesuatu yang langka dalam diri manusia. Tuhan menggunakan binatang untuk mengajar manusia, bahwa sikap ketulusan saat ini menjadi sangat mahal harganya karena langka ditemui. Banyak sekali orang Kristen yang melakukan pelayanan ini dan itu untuk kemuliaan nama Tuhan, tetapi tidak memiliki ketulusan di dalam hatinya. Barang langka saat ini bukan hanya emas dan berlian. Ketulusan dan hati yang murni menjadi lebih mahal karena hal ini tidak dapat dibeli dengan uang. Ketulusan adalah sikap yang paling disukai dan sulit sekali ditemukan dalam hidup seseorang. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita memiliki hati yang tulus?

Apabila kita memiliki hati yang tulus, akan dapat menyukakan hati banyak orang, dan orang-orang yang merasakannya akan bertanya-tanya akan kepribadian kita. Disanalah terang Tuhan Yesus dapat dinyatakan dan mudah diperdengarkan kepada banyak orang. Demikianlah kita menjadi sumber kesaksian akan keselamatan yang kekal.

Apabila kita menolong orang, mendoakan orang, dan berbuat baik kepada orang, janganlah melihat keberadaan orang tersebut berdasarkan status sosial atau yang lainnya, karena hal itu sama sekali tidak mencerminkan ketulusan. Walaupun yang meminta bantuan dan doa kita adalah orang yang sangat miskin, kita harus dengan tulus hati membantu dan mendoakannya dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus tidak pernah memandang jiwa berdasarkan alasan apapun. Alkitab berkata bahwa ada satu saja jiwa yang bertobat, seluruh isi surga bersukacita dan bersorak-sorai.

Ada empat karakter binatang yang kita pelajari hari ini. Binatang pertama adalah semut. Tuhan memakai semut untuk mengajar orang-orang pilihanNya karena semut adalah binatang yang rajin, sedangkan masih banyak sekali orang Kristen yang malas dan hanya minta berkat Tuhan saja. Berkat Tuhan akan melimpah kepada kita bila kita bekerja keras dan berusaha. Bekerja keras dengan disertai tuntunan Tuhan, maka perkara yang besar akan terjadi di dalam hidup kita.

Binatang yang kedua adalah pelanduk yang mencerminkan sikap semangat dan pantang menyerah. Masalah boleh datang kapan saja, tetapi kita tetap tenang dan damai bersama Yesus. Perempuan Kanaan dalam memohon kepada Tuhan Yesus memiliki sikap yang pantang menyerah, walaupun Tuhan Yesus menyamakan dirinya dengan anjing, tetapi perempuan ini tetap teguh hati, maka mujizat terjadi di dalam hidupnya. Kita memiliki status anak Kerajaan Surga, dimana Tuhan menjanjikan berkat yang berkelimpahan. Oleh sebab itu kita harus pantang menyerah akan hak yang harus kita peroleh. Kita harus dengan gigih dan pantang menyerah mendapatkannya.

Penampilan kita harus kita jaga dengan baik, terutama apabila kita datang ke kebaktian. Jangan asal-asalan dengan penampilan kita bila datang ke gereja. Kita datang ingin bertemu dengan Tuhan, yang adalah raja segala raja. Tidak perlu yang mahal dan penuh dengan perhiasan, akan tetapi kita harus menampilkan penampilan yang terbaik.

Binatang yang ketiga adalah belalang. Tuhan memakai belalang. Belalang mencerminkan sikap disiplin dalam hidupnya. Banyak orang Kristen asal-asalan, tidak disiplin, dan tidak menjaga tubuhnya. Kita sebagai orang Kristen harus menjaga tubuh kita yang adalah Bait Roh Kudus.

Binatang yang terakhir adalah cicak. Dimana-mana cicak dapat ditemukan. Ini mencerminkan sikap supel dan fleksibel. Kita tidak boleh mengeksklusifkan diri dari  orang-orang yang belum beroleh keselamatan. Kita tidak memiliki otoritas untuk menghakimi orang. Kita harus memiliki hati yang tulus bila memberitakan keselamatan. Keselamatan yang kita beritakan akan diterima atau tidak itu adalah urusan Tuhan dengan orang tersebut. Bagian kita adalah kita sebagai alat Tuhan memberitakan keselamatan, kita harus melakukannya dengan hati yang tulus.



[1] Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita,

sehingga kita disebut anak-anak Allah,

dan memang kita adalah anak-anak Allah.

Karena itu dunia tidak mengenal kita,

sebab dunia tidak mengenal Dia.

[2] Ada empat binatang yang terkecil di bumi,

tetapi yang sangat cekatan;

 

semut, bangsa yang tidak kuat,

tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,

pelanduk, bangsa yang lemah,

tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,

belalang yang tidak mempunyai raja,

namun semuanya berbaris dengan teratur,

dan cicak yang dapat kau tangkap dengan tangan,

tetapi yang juga ada di istana-istana raja.

[3] Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah,

sia-sialah usaha orang yang membangunnya;

jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota,

sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

 

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam,

dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah,

sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur

 

[4] Aku datang supaya mereka mempunyai hidup,

dan mempunyainya di dalam segala kelimpahan

 

[5] Hai, pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring?

Bilakah engkau bangun dari tidurmu?

Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi,

melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,

maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu,

dan kekurangan seperti orang yang bersenjata

[6] Mintalah, maka akan diberikan kepadamu,

carilah maka kamu akan mendapat,

ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Karena setiap orang yang meminta, menerima

dan setiap orang yang mencari, mendapat

dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

 

[7] Beginilah perintah Tuhan :

Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya;

masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya,

segomer seorang, menurut jumlah jiwa.

 

Demikianlah diperbuat orang Israel;

mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

 

Ketika mereka menakarnya dengan gomer,

maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan

dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.

Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

 

[8] Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret,

sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.

Ia melihat dua perahu di tepi pantai.

Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.

 

 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon,

dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai.

Lalu ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

 

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon :

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.“

Simon menjawab:

“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa,

tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

 

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan,

sehingga jala mereka mulai koyak.

[9] pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu.

 

[10] Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru :

“Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud,

karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita”

Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya.

 

Lalu murid-muridNya datang dan meminta kepadaNya :

“Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”

 

Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel”

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata :

“Tuhan, tolonglah aku.”

 

Tetapi Yesus menjawab:

“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

 

Kata perempuan itu,

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

 

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya:

“Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”

 

Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

[11] Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang

dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah,

ia mendengar bunyi seriling dan nyanyian tari-tarian.

Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

 

Jawab hamba itu :

Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun,

karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

 

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk.

Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.

 

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya :

Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa,

tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing

untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

 

Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa

bersama-sama dengan pelacur-pelacur,

maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

 

Kata ayahnya kepadanya :

Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,

dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.

[12] Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-muridNya

di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.

 

Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus,

Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus,

dan dua orang muridNya yang lain.

 

Kata Simon Petrus kepada mereka :

“Aku pergi menangkap ikan. “

Kata mereka kepadanya:

“ Kami pergi juga bersama dengan engkau. “

 

Mereka berangkat lalu naik ke perahu,

tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.

[13] Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan,

kecillah kekuatanmu.

 

[14] Karena itu bersukacitalah, hai sorga

dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya,

celakalah kamu, hai bumi dan laut!

karena Iblis telah turun kepadamu,

dalam geramnya yang dahsyat ,

karena ia tahum bahwa waktunya sudah singkat. “

 

[15] Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya,

dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin

dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya,

yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya.

Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

 

Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud

dan di depannya orang yang membawa perisainya.

Ketika orang Filistin itu menujukan pandangannya ke arah Daud

serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda,

kemerah-merahan, dan elok parasnya.

 

Orang Filistin itu berkata kepada Daud:

“Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat? “

Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.

 

Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud:

“Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu

kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang. “

 

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu:

 “ Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing,

tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam,

Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu. “

 

“ Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku

dan aku akan mengalahkan engkau,

dan memenggal kepalamu dari tubuhmu;

hari ini juga aku akan memberikan mayatmu

dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara,

dan kepada binatang-binatang liar,

 

supaya seluruh bumi tahu bahwa Israel mempunyai Allah,

dan supaya segenap jemaah ini tahu,

bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang,

dan bukan dengan lembing.

 

Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran

dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami. “

 

[16] Belalang yang tidak mempunyai raja,

namun semuanya berbaris dengan teratur.

 

[17] Tetapi tanpa iman,

tidak mungkin orang berkenan kepada Allah

 

Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah,

ia harus percaya bahwa Allah ada,

dan bahwa Allah memberi upah

kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

[18] Tetapi Roh Tuhan telah mundur dari pada Saul,

dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat

yang dari pada Tuhan.

[19] Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan

dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

[20] Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan

dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap Tuhan.

 

[21] cicak yang dapat kau tangkap dengan tangan,

tetapi yang juga ada di istana-istana raja

[22] sambil memuji Allah.

Dan mereka disukai semua orang.

Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka

dengan orang yang diselamatkan.

 

[23] Orang-orang yang menerima perkataannya itu

memberi diri dibaptis

dan pada hari itu,

jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

[24] Semua jenis binatang liar,

burung-burung, serta binatang-binatang menjalar

dan binatang-binatang laut

dapat dijinakkan dan telah dijinakkan

oleh sifat manusia.

 

Tetapi tidak seorangpun

yang berkuasa menjinakkan lidah;

ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai,

dan penuh racun yang mematikan.

 

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita;

dan dengan lidah kita mengutuk manusia

yang diciptakan menurut rupa Allah

[25] Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba

ke tengah-tengah serigala,

sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular,

dan tulus seperti merpati.

© Pastor Kong Hee, City Harvest Church

Marriage 101 Series

 

BAGIAN PERTAMA

APAKAH PERNIKAHAN KRISTEN ITU

 

Sebelum memulai semuanya, marilah kita berdoa terlebih dulu.

 

Bapa, saya berdoa di dalam nama Yesus, tolonglah agar kami dapat menjadi pribadi yang Tuhan inginkan di dalam kehidupan pernikahan kami.

Bagi kami yang masih lajang, kami berdoa agar Tuhan sendiri memberikan kepada kami prinsip-prinsip dan iman untuk dapat melihat bahwa suatu saat nanti kami akan menemukan pasangan hidup kami, pribadi yang sepadan, pribadi yang akan membawa surga ke dalam dunia kami.

Bagi kami yang sudah menikah, kami berdoa agar Tuhan tetap menolong pernikahan kami agar menjadi pernikahan yang berhasil, dan pernikahan kami dapat membawa kesukaan dan kebahagiaan bagi Tuhan. Bawalah kami menjadi seperti Kristus, sehingga kami benar-benar mengalami surga di dalam bumi ini.

Saya berdoa agar berkat Tuhan tercurah dalam rangkaian pengajaran ini, kami berkati semuanya dalam nama Yesus, Amin.

 

Pertama-tama, mari kita membuka Alkitab kita ke dalam ayat yang paling penting bagi kita semua yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai pernikahan di kitab Kejadian pasal 2:24, yang merupakan permulaan dari segala permulaan.

Hal ini saya ajarkan terutama kepada mereka yang masih lajang, karena pengajaran ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui mengenai segala sesuatu mengenai pernikahan dengan benar, dan dengan pengenalan pernikahan yang benar, saudara sedang membangun dasar yang kuat. Disini kita juga akan mengetahui bahwa kalian yang lajang tidak akan lajang selama-lamanya. Dengan pengajaran ini, kami ingin saudara memiliki permulaan yang baik, dalam hal ini saudara meletakkan dasar yang benar terhadap kehidupan pernikahan saudara.

Tetapi sebelumnya, saya ingin saudara semua mengetahui satu hal ini. Terlepas dari saudara adalah orang Kristen atau bukan, angka perceraian adalah sama, baik itu di dalam gereja atau di luar gereja, dan juga di segala jenis lapisan masyarakat. Bahkan di dalam gereja City Harvest sendiri, selama 6 bulan terakhir ini, saya melihat sendiri di tengah-tengah kita semua yang tumbuh bersama-sama di dalam Tuhan, banyak yang mengalami pahitnya proses perceraian, dan hal ini sangat menyakitkan hati saya.

Rangkaian pelajaran mengenai pernikahan ini saya ajarkan kepada saudara, bahkan dengan penekanan yang kuat, karena saya memiliki tujuan agar saudara semua tahu bahwa Tuhan ingin saudara semua dapat mengalami kebahagiaan di dalam pernikahan saudara, dan dengan memiliki pernikahan yang bahagia, berarti saudara telah memiliki surga di dalam bumi ini. Karena itu katakanlah sekarang kepada dirimu sendiri : Aku akan mengalami pernikahan yang bahagia. Maka terjadilah demikian kepada saudara. Katakanlah perkataan ini dengan iman saudara, dan saudara akan memilikinya.

Mari kita membaca Kejadian 2:24 sekarang. Demikian Firman Tuhan, “Sebab itu, seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Dari permulaan Alkitab, yaitu di kitab Kejadian, menunjukkan bahwa pernikahan adalah institusi atau struktur pertama yang diciptakan oleh Tuhan di dalam dunia ini. Saudara perhatikan hal penting ini. Pernikahan bahkan diciptakan Tuhan, jauh sebelum manusia sendiri jatuh ke dalam dosa. Pernikahan sudah ada jauh sebelum penebusan manusia terjadi. Pernikahan adalah rencana Tuhan bagi seluruh umat manusia, tidak peduli saudara adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus atau tidak, tidak ada perbedaan disini. Tuhan tetap menaruh rencana pernikahan ke dalam hidup saudara.

Akan tetapi, perhatikan hal ini juga. Pernikahan bukanlah bagian dari rencana penebusan Tuhan bagi manusia. Dengan kata lain, saudara tidak perlu menikah untuk masuk ke dalam kerajaan Surga, dan pernikahan bukanlah suatu hal yang harus dilakukan untuk memperoleh keselamatan. Saudara tidak perlu menikah dengan tujuan agar segala dosa saudara diampuni. Pernikahan bukanlah berkat dan anugrah yang dikhususkan bagi orang percaya, akan tetapi bagi setiap manusia yang Tuhan ciptakan.

Oleh karena pernikahan adalah berkat bagi setiap orang, kita dapat melihat bahwa banyak sekali orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus sekalipun, memiliki kehidupan pernikahan yang sukses. Bahkan saudara mungkin akan menemukan misalnya orangtua saudara sendiri yang bukan orang Kristen memiliki kehidupan pernikahan yang jauh lebih bahagia dibandingkan dengan banyak anggota-anggota gereja atau jemaat yang saudara kenal.

Bahkan raja Salomo yang disebutkan di dalam Alkitab tidak memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia, memperhatikan pentingnya kebahagiaan di dalam pernikahan. Ia berkata di dalam kitab Pengkhotbah 9:9, yang berkata : “Nikmatilah kehidupan dengan perempuan yang kamu cintai di sepanjang hidupmu, karena istri yang Tuhan berikan kepadamu adalah upah besar atas segala jerih payahmu di bumi ini.“ Jadi bagi Salomo, mungkin pernikahan adalah satu-satunya surga yang dialami oleh orang-orang yang tidak percaya di dalam kehidupan mereka.

Jadi, apa itu pernikahan? Apa arti dari pernikahan? Apa definisi dari pernikahan? Banyak sekali definisi-definisi yang menyedihkan di luar sana yang dapat saudara temukan mengenai pernikahan. Seperti misalnya ada yang menyebutkan bahwa sebelum orang menikah, setiap orang pasti akan mengenal cinta, dan kita semua tahu bahwa cinta itu adalah buta, sehingga pernikahan sebenarnya adalah institusi bagi orang-orang buta. Ada pihak lainnya yang mengatakan bahwa cinta adalah seperti sebuah mimpi yang sangat indah, sedangkan kehidupan di dalam pernikahan adalah seperti jam weker yang membangunkan kita dari mimpi yang indah tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa pernikahan adalah rangkaian fase yang memiliki 3 cincin, yaitu cincin pertunangan (engagement ring), cincin pernikahan (wedding ring), dan lingkaran penderitaan (suffering). Sementara ada yang lainnya mengatakan bahwa pernikahan itu penuh dengan frustasi dan kejutan. Di dalam tahun pertama, suami akan berbicara, sementara istri akan mendengarkan. Di tahun kedua, istri yang akan berbicara, sementara suami yang akan mendengarkan. Di tahun ketiga, suami dan istri akan saling berbicara, sementara tetangga-tetangga yang akan menjadi pendengar.

Jadi, mengapa orang-orang masih ingin menikah? Apa yang saudara harapkan dari sebuah pernikahan? Jawaban saudara mungkin dapat seperti berikut ini antara lain,

“Saya ingin membagi hidup saya dengan seseorang.”

atau “Saya ingin memiliki seseorang yang dapat membuat saya bahagia. Saya ingin menghabiskan hidup saya dengan orang yang saya cintai dan juga mencintai saya.”

atau “Saya tidak ingin hidup sendirian. Dengan pernikahan saya ingin mengisi sesuatu yang kosong dan masih kurang di rumah saya.”

atau “Saya ingin setia kepada Tuhan, sehingga saya mentaati Tuhan untuk mencintai seseorang yang Tuhan inginkan untuk saya cintai.”

atau “Saya tidak ingin sendiri sewaktu saya tua, dan dengan menikah, hal ini menjadi kunci keamanan hidup saya.”

atau “Saya merasa aman bila memiliki hubungan yang permanen.”

Alasan-alasan yang disebutkan di atas adalah contoh-contoh yang biasa disebutkan mengenai keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh di dalam pernikahan, akan tetapi alasan-alasan ini tidak cukup kuat untuk dijadikan fondasi bagi kehidupan pernikahan yang kuat. Banyak orang menikah tanpa mengetahui bahwa dengan menikah, ada komitmen seumur hidup yang mereka masuki, karena itu banyak didapati pasangan-pasangan muda merasa sangat terkejut terutama saat acara pernikahan dan bulan madu berakhir. Mereka baru sadar bahwa ada komitmen yang harus mereka jalani seumur hidup mereka, terlepas di dalam keadaan mereka memiliki perasaan cinta kepada pasangannya ataupun sedang tawar hati.

Marilah saya beritahu saudara semua satu hal penting ini : Dari pengalaman pasangan yang telah menikah bertahun-tahun, semua pasangan suami istri akan pernah mengalami rasa tawar akan cinta kepada pasangannya. Akan tetapi ada kabar baik. Kabar baiknya adalah walaupun saudara mungkin akan mengalami tawar hati, saudara akan dapat merasakan jatuh cinta lagi. Ketika cinta saudara menjadi tawar, hal ini hanya bersifat sementara, dan saudara dapat saling mencintai kembali. Inilah yang menjadi tujuan dari rangkaian pengajaran ini, yaitu agar dapat menolong saudara untuk saling mencintai seumur hidup saudara.

Ada beberapa psikolog, konselor pernikahan, dan pastor-pastor yang mengatakan bahwa pernikahan adalah seperti suatu kontrak. Jika hal ini memang benar, dalam sebuah pernikahan, kontrak apakah yang kita masuki? apakah pernikahan ada yang benar-benar merupakan seperti sebuah kontrak?

Saya ingin saudara menyadari beberapa hal. Pertama, di dalam pernikahan tidak ada klausa yang mengatur jika begini maka begitu, dan sebaliknya. Semua kontrak memiliki kewajiban-kewajiban tertentu, dimana pihak-pihak yang terkait dituntut untuk melakukan kewajiban-kewajiban mereka masing-masing. Inilah yang disebut klausa jika. Misalnya pada kontrak sewa menyewa rumah, “Jika saudara melakukan ini dan itu, saya akan membayar biaya sewa.”

Singkatnya dapat dikatakan “Saya akan melayani saudara dalam hal ini hanya jika saudara melakukan sesuai dengan yang terdapat di dalam kontrak kita. Jika saudara melakukan hal-hal yang terdapat di dalam kontrak ini, saya akan melakukan hal ini dan hal itu. Tetapi jika saudara tidak melakukan hal-hal yang terdapat di dalam kontrak ini, saya juga tidak akan melakukan hal-hal ini dan itu.”

Dalam kehidupan pernikahan yang dari Tuhan, tidak pernah ada klausa yang berdasar pada “jika ini maka itu”, atau “jika begini maka demikian.” Di dalam janji pernikahan, semuanya bersifat mutlak baik di dalam suka dan duka, sakit dan sehat, di dalam waktu-waktu yang baik, ataupun di masa-masa yang sukar. Jadi di sini saudara menyadari beberapa hal. Sewaktu pemberkatan pernikahan, saudara tidak akan pernah mendengar sang pendeta yang memimpin pernikahan tersebut berkata “Jika suami dapat mencintai istri, maka istri dapat melanjutkan atau memperpanjang kontrak ini.” atau “Jika istri dapat tunduk kepada suami, maka suami harus mematuhi kewajiban yang terdapat di dalam kontrak ini.” Tentunya saudara semua tidak akan pernah melihat dan mendengar hal-hal yang demikian, karena pernikahan adalah komitmen tanpa syarat yang dimasuki oleh kedua orang. Bersifat mutlak, tanpa syarat, di dalam masa baik, ataupun masa yang sulit.

Hal yang kedua, tidak ada klausa pembatalan di dalam kehidupan pernikahan. Apa yang dimaksudkan dengan klausa pembatalan? Artinya adalah jika ada satu pihak yang tidak melaksanakan kewajibannya, kontraknya dapat dibatalkan. Jadi jika ada pihak yang tidak melaksanakan kewajibannya, pihak lainnya dapat menyatakan diri keluar dari kontrak tersebut. Misalnya jika saudara mengontrak sebuah rumah, tetapi saudara tidak membayar uang sewa rumah tersebut hingga batas waktu yang ditentukan, maka pemilik rumah dapat mengusir saudara keluar dari rumah tersebut. Atau jika pemilik rumah tidak menunaikan kewajibannya, seperti membayar tagihan listrik dan air pada bulan-bulan sebelum kontrak dilakukan, saudara sebagai penyewa dapat melakukan tuntutan kepada pemilik rumah tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan klausa pembatalan. Tetapi di dalam kehidupan pernikahan, tidak ada sebuah klausa pembatalan.

Jika pernikahan bukanlah sebuah kontrak sosial ataupun kontrak hukum, maka hal ini perlu saudara ketahui : Pernikahan adalah sebuah perjanjian. Tuhan yang saudara sembah dan puji, adalah Tuhan yang membuat perjanjian, dan Tuhan juga adalah pelaku perjanjian.

Sekarang mari kita buka Alkitab kita di Kejadian pasal 17. Kejadian adalah kitab yang pertama dan mula-mula dari seluruh Alkitab. Dengan ini saudara tahu pikiran awal Tuhan dari masa permulaan. Di dalam Kejadian 17:1 dan 2 dikatakan : “Ketika Abram berumur 99 tahun, Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berkata : Akulah Tuhan yang Mahakuasa. Hiduplah dihadapanKu dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian di antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat keturunanmu sangat banyak.

Jadi pertama kali Tuhan menampakkan diri kepada Abram, Tuhan menunjukkan sifatNya yang suka dengan membuat perjanjian. “Halo, Abraham. Saya Tuhan, dan saya ingin membuat perjanjian denganmu.” Jadi Tuhan kita adalah Tuhan yang suka membuat perjanjian.

Ada tujuh alasan mengapa pernikahan itu adalah lebih dari sekedar kontrak sosial atau hukum. Ada 7 alasan, jadi, jika ada seseorang yang berkata kepadamu tulisan ini hanya secarik kertas, katakan kepadanya bahwa hal ini tidak semudah yang dia kira. Ini bukanlah secarik kertas yang biasa. Pernikahan adalah sebuah perjanjian, dan ada beberapa alasan, demikian alasan-alasannya sebagai berikut.

Alasan yang pertama, di dalam sebuah perjanjian ada saksi-saksi yang terlibat di dalamnya. Jadi jika kamu berkata, “Pastor, kami pergi ke Las Vegas dan menikah di sebuah kapel kecil, dimana pendetanya berdandan dengan gaya Elvis, dan disana tidak ada seorangpun saksi.” Saya ingin berkata kepadamu bahwa kamu salah. Di dalam setiap janji pernikahan, Tuhan ada di sana, dan Dia sendiri menjadi saksi di dalam ikat janji yang saudara lakukan.

Matius 19:6 berkata, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu, karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.” Apa yang dimaksudkan dengan dipersatukan oleh Tuhan? Maksudnya Tuhan ada disana. Jadi, Tuhan Yesus adalah saksi dari setiap ikat janji pernikahan Kristen. Yesus sendiri yang menjadi saksi dan adalah pusat dari setiap pernikahan Kristen.

Jika kita melihat kembali di Kejadian 17 ayat yang ke 4 hingga ke 6, ayat tersebut berkata demikian, “Dari pihakku, inilah perjanjianKu dengan engkau. Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu, namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa dari sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak, dan engkau akan Kubuat menjadi bapa bangsa-bangsa, dan dari keturunanmu akan lahir raja-raja.”

Kita dapat melihat disini ketika Tuhan membuat sebuah perjanjian, apa yang  Ia lakukan? Di dalam perjanjian yang Tuhan lakukan ini, saudara dapat melihat dan menemukan banyak janji-janji yang Tuhan berikan. Jadi, apa yang dimaksud dengan perjanjian? Ini adalah alasan kedua dari sebuah perjanjian, yakni perjanjian memiliki komitmen total. Di dalam sebuah perjanjian, ada komitmen total yang diberikan. Disini kita melihat bahwa Tuhan memberikan janji komitmen total kepada Abraham.

Jadi ketika saudara memulai sebuah pernikahan, seorang mempelai pria dan wanita berdiri di hadapan pendeta, ataupun petugas catatan sipil, apa yang mereka lakukan disana? Mereka mengambil janji dan mengatakannya satu sama lain. Mereka akan berkata, “Saya mengambil engkau sebagai suami atau istri saya, untuk saya miliki dari mulai hari ini, dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan kaya dan miskin, dalam keadaan sakit dan sehat, untuk saling mengasihi, mencintai, dan mentaati, seumur hidupku menurut hukum Tuhan yang kudus, dengan ini kuberikan cintaku.” Jadi, dengan menikah, saudara mengambil perjanjian dan komitmen total.

Sebagai orang Kristen, kita adalah bagian dari perjanjian Baru, dan saudara semua adalah bagian dari Tubuh Tuhan. Artinya Yesus Kristus mengambil komitmen total kepada saudara. Secara roh, secara mental, secara emosional, secara finansial, dan juga secara fisik, Dia berkomitmen kepadamu. Akan tetapi, saudara semua juga mempunyai kewajiban untuk berkomitmen total kepadaNya. Kita berkomitmen total kepada Tuhan dengan mentaati perkataanNya di dalam Firman Tuhan. Kita berkomitmen total kepada Tuhan dengan memberikan hidup kita. Dengan memberikan segalanya yang ada di dalam diri kita, seperti talenta kita, waktu kita, energi kita, dan juga keuangan kita.

Demikian juga halnya dengan pernikahan. Dengan saudara mengambil keputusan untuk menikah, perlu saudara ketahui, pernikahan bukanlah sesuatu dimana saudara hanya melakukan perhatian di dalam waktu-waktu tertentu saja, atau saudara hanya berfokus kepada keluarga hanya di waktu-waktu luang saja, melainkan Tuhan mengharapkan ada komitmen total di setiap pribadi masing-masing. Komitmen total yang sama, yaitu komitmen total secara roh, secara mental, secara emosional, secara pikiran, secara fisik, dan di dalam keuangan. Di dalam pernikahan bukanlah pengaturan dan pembagian setengah-setengah, masing-masing mengerjakan bagiannya, tetapi keduanya bersama-sama membangun pernikahan dengan komitmen yang penuh.

Sudut pandang dalam Alkitab mengenai pernikahan adalah sebagai berikut: Pernikahan adalah komitmen total dari seseorang secara utuh, tubuh, jiwa, dan roh untuk kehidupan yang maksimal, sampai seumur hidupmu, sampai maut memisahkan. Jadi, pernikahan adalah untuk seumur hidupmu. Ini adalah rencana awal Tuhan. Ini adalah tujuan Tuhan yang mula-mula dengan pernikahan. Pernikahan diciptakanNya sebagai institusi untuk seumur hidup di dalam setiap masing-masing manusia.

Mendengar ini, mungkin banyak dari saudara yang merasa terkejut. Mungkin saudara ada yang bertanya, “Bagaimana kalau saya merasa bosan, atau tidak menemukan kecocokan lagi di tahun ketujuh? atau tahun kesepuluh?” Saya katakan kepadamu bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup. Jadi kalau saudara ada yang merasa gatal di tahun ketujuh, atau kapanpun hal itu muncul, garuk saja rasa gatal itu, dan tetaplah setia kepada pernikahan saudara. Seperti dari awal saya katakan, pernikahan adalah komitmen total, untuk seumur hidup, dalam keadaan apapun, dan bagaimanapun.

Saudara lihat di dalam Kejadian 17:7, yang berkata demikian, “Sekarang Aku akan mengadakan perjanjian dengan engkau, serta keturunanmu turun temurun, menjadi sebuah perjanjian yang tetap, supaya Aku dapat menjadi Tuhan bagimu dan keturunanmu, dan kepadamu juga keturunanmu akan kuberikan negeri ini yang kamu diami sebagai orang asing, seluruh negeri Kanaan akan Kuberikan kepadamu dan keturunanmu untuk selama-lamanya, dan Aku akan menjadi Tuhan mereka.”

Jadi dapat saudara lihat, bahwa perjanjian adalah tetap. Inilah alasan yang ketiga. Perjanjian bersifat tetap, permanen, dan tidak dapat dibatalkan oleh apapun juga. Jadi, apabila nanti keturunan Abraham tidak setia kepada Tuhan, Tuhan akan tetap setia, karena perjanjianNya dengan Abraham tetap sampai selama-lamanya. Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah membuat perjanjian dengan Abraham, dan perjanjianNya itu tetap. Firman Tuhan di dalam 2 Timotius 2:13 berkata,”Jika kita tidak setia, Tuhan tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.”

Jadi apa itu perjanjian? Perjanjian adalah persetujuan resmi suatu ikatan janji yang tidak dapat dibatalkan, demikian juga seharusnya dengan pernikahan. Bahkan jika di saat istri atau suami saudara tidak memiliki komitmen lagi dan menjadi tidak setia, saudara harus tetap setia kepada istri atau suami saudara tersebut, karena dengan saudara tetap setia dan bertahan, selalu ada harapan untuk pemulihan dan membuat pihak yang tidak setia itu bertobat dan kembali kepada saudara, dan hubungan saudara dipulihkan.

Sebagai seorang pastor, saya ingin memberitahukan satu hal yang aneh kepada saudara. Jika ada suami yang tidak setia, istrinya seakan-akan memiliki kasih yang ekstra untuk menerima dia kembali. Akan tetapi jika saudara melihat ada istri yang tidak setia, sang suami malah berlaku seakan-akan seperti orang yang suci dan berkata kepada istrinya, “Saya tidak akan menerima kamu lagi.”

Akan tetapi, coba bayangkan betapa seringnya kita menjadi pribadi yang tidak setia kepada Tuhan, tetapi Tuhan selalu disana menunggu saudara dengan setia untuk kembali kepadaNya. Berapa banyak kali saudara mundur dari Tuhan, saudara kehilangan kasih mula-mula yang saudara miliki kepada Tuhan, tetapi Tuhan tetap disana, mengetuk hati saudara dan berkata, “Apakah kamu akan memberi Aku sekali lagi kesempatan untuk saya boleh masuk ke dalam hatimu?”

Waktu kita tidak setia, Tuhan tetap setia. Mengapa demikian? Karena Dia adalah Tuhan yang setia dengan janjiNya. Kita sebagai orang Kristen adalah pengikut Kristus, bukan? Jika Tuhan kita sudah menunjukkan kasih setiaNya kepada kita, tentunya kita juga seharusnya menjadi anak-anakNya yang setia. Setialah terhadap janji pernikahan saudara, karena pernikahan adalah untuk seumur hidup. Di dalam pernikahan, Tuhan tidak pernah melihat saudara dan pasangan saudara sebagai dua orang, tetapi saat ini Tuhan melihat saudara berdua sebagai satu kesatuan yang utuh. Jadi sewaktu saudara diberkati, saudara dan pasangan saudara tidak lagi dua, melainkan menjadi satu daging. Karena saudara dan pasangan saudara adalah satu kesatuan, maka tidak boleh ada perceraian dan perpisahan di antara saudara, karena bila saudara memisahkan diri, kerusakan yang ditimbulkan dari perceraian, tidak akan pernah dapat diperbaiki kembali.

Ketika saya berada di Taiwan, ada pastor bernama Pastor Chi Kiang. Dia mengikuti sebuah kompetisi. Disana dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang lengannya retak di hadapan semua orang. Saat itu kami langsung membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter yang merawatnya berkata, “Kamu harus dioperasi sekarang.” Mendengar itu, kami semua menjadi takut, dan berpikir apakah Pastor Chi Kiang akan kehilangan lengannya? Mengapa kami takut? Karena jika dia kehilangan lengannya, dia tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya, karena lengannya adalah bagian dari tubuhnya yang menjadi satu kesatuan.

Begitu juga dengan perceraian. Sewaktu saudara dan istri saudara menikah, saudara dan istri saudara menjadi satu daging. Saudara dan istri saudara merupakan satu bagian dalam satu tubuh. Jika terjadi perceraian, maka akan terjadi kerusakan yang sangat parah dan tidak dapat diperbaiki lagi, dan keadaannya tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.

Mungkin ada yang berpendapat, “Bagaimana jika pernikahan saya memang tidak dapat dilanjutkan kembali? Tentunya baiknya saya bercerai, dan saya merasa sah-sah saja mengambil jalan perceraian ini untuk kebaikan saya.” Kalau ada yang berpendapat seperti ini, saudara harus mengetahui hal ini. Perceraian itu seperti menembak orang kembar siam. Apapun dan bagaimanapun caranya, kedua belah pihak akan menjadi korbannya, dan kerusakan yang ditimbulkan akan parah sekali.

Sekarang kita buka Alkitab kita di Kejadian 22. Sebelumnya, ijinkan saya untuk memberi penghiburan kepada saudara yang telah bercerai, atau kepada saudara yang ingin menikah lagi. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh dengan kasih karunia dan belas kasihan. Jadi, apa yang dimaksud dengan dibasuh oleh darah Kristus? Sebagai orang percaya, saudara dibasuh oleh darah Yesus, dan lewat pembasuhan oleh darah Kristus, segala yang lama menjadi bersih dan baru kembali, dan saudara memulai hidup saudara dengan lembaran yang baru. Saudara menjadi ciptaan yang baru di dalam Kristus Yesus.

Jadi, bagi saudara yang pernah bercerai, atau mau menikah lagi, mulai saat ini saudara adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, mulai saat ini, bagi yang telah bercerai dan mau menikah lagi, hiduplah dengan perjanjian baru, dan komitmen yang baru, dalam pernikahan saudara, saudara tetap setia selama-lamanya.

Sekarang ini, mari kita lihat dalam 2 ayat pertama di Kejadian pasal 22. “Setelah semuanya itu, Tuhan menguji Abraham.” Jadi, perjanjian itu akan diuji. Begitu juga dengan pernikahan saudara. Pernikahan saudara akan diuji. Sekali lagi saya yakinkan, pernikahan saudara itu akan diuji. “Lalu Tuhan berfirman kepada Abraham, Abraham! Lalu sahutnya, Ya Tuhan? FirmanNya : Ambillah anakmu yang tunggal itu, Ishak, yang engkau kasihi.” Ini adalah pertama kalinya kata kasih digunakan di dalam Alkitab. Kata kasih ini ada di dalam konteks perjanjian.

Mari kita lanjutkan pembacaan kita. “Pergilah ke tanah Moria, persembahkanlah dia disana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.Jadi perjanjian itu berjalan dan dijalankan berdasarkan kasih. Perjanjian dan komitmen ikat janji dijalankan berdasarkan kasih, bukan kewajiban atau beban.

Jadi, perjanjian itu tidak dapat disebutkan sebagai kontrak sosial atau kontrak hukum. Karena jika saudara melakukan sesuatu karena terikat oleh kontrak, akan berbeda sekali dengan perjanjian yang dijalankan berdasarkan kasih. Jika saudara membayar uang sewa kontrak rumah kepada pemilik rumah, itu semua dilakukan karena kewajiban saudara di dalam kontrak, bukan karena saudara mengasihi si pemilik rumah dan membayarnya tepat waktu. Contoh lainnya, bila saudara memiliki karyawan dan staff di perusahaan saudara, tiap awal bulan akan datang kewajiban saudara untuk memberikan gaji kepada mereka. Apakah saudara menggaji mereka karena saudara terikat oleh kontrak, atau saudara membayar gaji mereka karena saudara mengasihi semua karyawan saudara?

Saya memang mengasihi karyawan dan staff yang bekerja dengan saya, akan tetapi bila saudara membayar gaji mereka setiap bulan, hal itu bukan didasari oleh karena kasih yang tidak bersyarat kepada mereka, akan tetapi lebih karena saudara terikat oleh kontrak, bahwa saudara harus membayar gaji mereka setiap bulan yang bekerja kepada saudara.

Kontrak sosial dan kontrak hukum bukanlah dijalankan berdasarkan kasih, akan tetapi dijalankan berdasarkan kepentingan diri sendiri. Kontrak diadakan untuk melindungi kepentingan sendiri. Berbeda dengan perjanjian, perjanjian dijalankan berdasarkan kasih, dan setiap perjanjian pasti akan diuji. Kasih saudara kepada istri atau suami saudara akan diuji terus-menerus, lagi dan lagi dengan berbagai keadaan dan situasi.

Keadaan dan situasi yang bagaimana dan seperti apa? Kasih saudara akan diuji dalam berbagai keadaan, misalnya dalam keadaan yang memungkinkan saudara melakukan perselingkuhan. Banyak keadaan dan situasi yang dapat mendorong terjadinya hal-hal tersebut, dan oleh karena itu, akan ada satu bagian tersendiri dalam rangkaian pengajaran ini, bagaimana melindungi pernikahan saudara dari perselingkuhan.

 

 

(to be continued)