(c) Indry Pardede
EMPAT BINATANG KECIL VS ORANG KRISTEN
I Yohanes 3:1 berkata bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. Ini adalah sesuatu hal yang luar biasa. Jika dunia yang melakukannya, pasti perlu berpikir-pikir dan masih mengalami banyak pertimbangan dan ketakutan untuk mengangkat seseorang sebagai anak, takut orang yang akan diangkat anak adalah anak dari pelacur, atau anak orang jahat, tetapi Tuhan tidak pernah memandang status dan keberadaan kita. Siapapun kita, Tuhan mau menerima kita sebagai anak-anakNya. Sudahkah kita semua menyadari bahwa hal ini adalah status privilege yang paling tinggi yang kita miliki di dalam hidup kita?
Kalau status anak presiden saja banyak yang bisa membuat orang bangga. Padahal kekuasaan seorang presiden adalah sangat terbatas. Dalam jangka waktu yang sebentar saja, kekuasaan dari presiden itu dapat lenyap lewat lengsernya kekuasaan pemerintahannya, dan kebanggaan itu pun akan segera surut, karena begitu kekuasaan seorang manusia berganti, mereka akan menjadi biasa seperti orang-orang lainnya. Akan tetapi kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang kekal dan tidak pernah berlalu dari dulu, sekarang dan selama-lamanya, dan kita juga sekali menjadi anak Allah, selama-lamanya akan menjadi anak Allah. Sudah seharusnya kita sangat bangga dengan status anak Allah yang kita miliki karena dengan menyandang status anak Allah, berarti kita semua yang telah lahir baru dan ditebus oleh darah Kristus adalah pewaris tahta Kerajaan Allah.
Tetapi sayangnya, banyak dari kita orang-orang Kristen, mengaku dirinya adalah anak Allah, tetapi malah membuat Tuhan kita malu. Untuk melakukan pengetesan akan hubungan darah, biasanya kedokteran dan medis akan dapat membuktikannya dengan tes DNA. Begitu juga dengan status anak Allah. Kita tidak dapat mengaku diri kita adalah anak Allah, jika kita tidak memiliki DNA nya Allah.
Di dunia ini, banyak orang tua yang tidak mau mengakui anaknya sendiri, dan malah tega membuangnya. Jika dituntut banyak yang tidak mengakui anaknya sendiri, sehingga untuk membuktikan kebenaran akan status anak tersebut, banyak sekali orang di dunia yang melakukan tes DNA. Begitu juga dengan kita orang Kristen. Kita harus mau melewati pengujian atau menguji diri kita, apakah kita memiliki DNA Allah, yaitu karakter-karakter Allah? Jika kita tidak memiliki karakter Allah, apalagi tidak memiliki darah Kristus yang sebagai tanda kita ditebus, jangan sekali-kali kita mengaku diri kita adalah anak Allah. Hal ini hanya akan mempermalukan kita sendiri.
Dalam bacaan kita kali ini, kita akan mempelajari tentang sifat empat binatang kecil. Jika Firman Tuhan berkata-kata di dalam hatimu, janganlah kamu mengeraskan hatimu, tetapi biarkanlah Roh Kudus yang ada padamu berbicara dan memulihkanmu.
Dalam Amsal 30 : 24-28 akan menjadi bahan utama pelajaran kita hari ini. Biasanya kita mendengar panutan dari banyak orang-orang terkemuka dan terhormat. Banyak gereja berusaha mendatangkan hamba-hamba Tuhan yang sangat terkenal dan kita menjadikan mereka panutan. Tetapi pada hari ini, Tuhan mau mengajar kita anak-anakNya untuk belajar kepada empat binatang kecil. Bukan binatang yang gagah, melainkan selain hanya binatang, mereka hanyalah binatang kecil yang mungkin diremehkan dan tidak dianggap orang. Tetapi mengapa Tuhan menuliskan keempat binatang kecil ini? Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bahwa banyak sekali orang-orang Kristen yang mengaku anak-anak Allah, tetapi sifatnya masih jauh di bawah binatang-binatang ini. Tuhan dapat memakai apapun untuk mengajar kita, anak-anakNya.
Semua status kekristenan yang kita miliki seperti kalung salib, sering pergi berziarah ke Israel, dan lain-lain sama sekali tidak dapat kita banggakan, karena status anak Allah yang memiliki DNA dan karakter Allah tidak dapat kita peroleh dari semuanya itu. Semua kegiatan kerohanian kita, tidak dapat menjadi jaminan. Tetapi saat ini Tuhan ingin mengajar kita, bahwa jika kita memiliki karakter yang dimiliki oleh keempat binatang kecil ini saja, kita sudah menjadi seorang yang luar biasa di mata Tuhan.
Hari ini kita belajar dari empat binatang kecil di atas. Tujuan kita adalah untuk menginstrospeksi diri kita yang mengaku orang Kristen. Kita yang selama ini mengaku sebagai orang paling rohani, atau orang yang paling layak disebut anak Allah, tetapi ternyata sifat dari keempat binatang kecil ini saja mungkin kita tidak punya.
Karakter dari binatang yang pertama adalah dari semut. Banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki karakter semut ini, yaitu walaupun dia sangat lemah, tetapi dia tetap dengan rajin mengumpulkan makanan di saat musim panas. Banyak sekali orang-orang Kristen yang malas sekarang ini. Janganlah kita mengaku sebagai anak Allah kalau kita adalah orang yang malas, karena Tuhan Yesus sama sekali tidak pernah malas. Firman Tuhan berkata bahwa pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, Yesus bangun untuk berdoa. Banyak orang Kristen adalah orang Kristen yang malas, karena salah paham dengan menggunakan konsep yang ada di dalam Alkitab. Banyak kita mengartikan Firman Tuhan secara harafiah dan terutama kita membaca Firman Tuhan dengan pengertian kita sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan apa arti dari Firman Tuhan yang ingin Tuhan berikan di dalam hati kita, sehingga banyak orang Kristen yang malas dan hanya ingin mendapatkan berkat-berkat Tuhan saja.
Contoh ayat Firman Tuhan yang seringkali disalah artikan misalnya di Mazmur 127:1-2 . Semut adalah rajin, ia mengumpulkan makanan pada musim panas, sementara orang-orang Kristen banyak yang malas-malasan, hanya menunggu berkat tercurah dari langit. Hal yang seperti ini tidak akan pernah terjadi di dalam hidup kita. Tuhan tidak akan memberikan berkat kepada pemalas. Bahkan firman Tuhan sendiri berkata bahwa siapa yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
Orang-orang Kristen banyak yang menyalah artikan Firman Tuhan di awal dari Mazmur 127 di atas. Jika kita hanya malas-malasan dan hanya tidur sepanjang hari menunggu berkat Tuhan, sesungguhnya berkat itu tidak akan pernah datang kepada kita, sampai kapanpun kita menunggu dan berharap. Yesus tidak pernah malas-malasan. Dia adalah pribadi yang rajin dan pekerja keras. Sebelum Dia melayani, Dia yang memiliki orang tua jasmani seorang tukang kayu, Yesus bekerja keras membantu penghidupan keluargaNya. Jika orang Kristen hanya malas-malasan saja, janganlah mimpi dan berharap bahwa kita akan diberkati oleh Tuhan.
Janji Tuhan ada di Yohanes 10:10 b. Ini adalah janji Tuhan kepada anak-anakNya. Kita semua dijanjikan akan hidup yang berkelimpahan, tetapi mengapa banyak orang Kristen yang tidak mengalami janji Tuhan ini? Ada ayat Firman Tuhan yang akan menegur kita, bila kita tidak mendapatkan janji Tuhan akan hidup yang berkelimpahan. Kita dapat melihatnya di kitab Amsal 6:9-11 yang dengan tegas menegur kita. Jika engkau malas, maka kemiskinan akan segera menghampirimu. Tuhan tidak pernah memberikan kemiskinan kepada kita, anak-anakNya. Tetapi kebiasaan kita yang senang berbaring dan bermalas-malasan yang mengakibatkan kemiskinan datang.
Firman Tuhan di Mazmur 127 memang menyebutkan anak-anakNya walaupun tidur akan tetap diberkati. Hal ini memang benar, dimana artinya dalam melakukan segalanya, kita tidak perlu melakukannya dengan stress dan tidak memiliki pengharapan. Jika kita adalah orang benar, kita tetap bekerja, tetapi setelah kita bekerja, kita dapat tidur dengan nyenyak tanpa merasa kuatir akan semua harta benda yang dimiliki, karena kita yakin bahwa kita berada dalam lindungan tangan Tuhan. Banyak sekali orang yang dengan lelah bekerja, dan memiliki uang yang sangat banyak, tetapi tidak dapat tidur dengan nyenyak karena selalu takut dan kuatir akan hartanya diambil orang atau dirampok, sehingga otaknya berputar terus siang dan malam tanpa damai sejahtera.
Firman Tuhan yang menyebutkan bahwa di saat kita tidur kita akan diberkati adalah dimana kita sudah bekerja dari pagi hari. Kita tidak dapat hanya makan dan tidur saja. Kita datang ke dunia ini adalah untuk berkarya, karena setiap manusia yang diciptakan, terlebih yang adalah anak-anak Allah, memiliki tugas khusus dari Tuhan. Lewat binatang pertama yang rajin ini, yaitu semut, kita memperoleh suatu pelajaran yang baik. Kita tidak perlu belajar dari hamba Tuhan yang luar biasa seperti Benny Hinn, karena masih sangat banyak dari kita yang masih kalah dibandingkan dengan semut.
Kemiskinan bukanlah milik orang Kristen. Tuhan Yesus berkata dalam FirmanNya bahwa anak-anakNya tidak akan meminta-minta roti. Banyak orang bisa jatuh miskin kebanyakan bukan karena tekanan hidup, tetapi jauh lebih banyak dikarenakan karena dari dalam dirinya sendiri, yaitu karena malas.
Ada satu ayat lagi yang sering menimbulkan salah persepsi, dan seringkali digunakan oleh orang Kristen. Maka dari itu, orang-orang Kristen yang memiliki pengetahuan akan Firman Tuhan tanggung-tanggung akan salah mengartikan Firman Tuhan ini dan akan membahayakan diri sendiri. Matius 7:7-8 dapat kita baca, dimana perikopnya adalah tentang pengabulan doa. Berdoa memang sangatlah penting, tetapi tidaklah cukup hanya dengan berdoa saja, tetapi ada bagian kita yang harus kita lakukan. Tuhan Yesus tidak suka dengan orang Kristen yang malas. Sesungguhnya transformasi bagi orang-orang percaya tidak akan terjadi kalau kita tidak mengambil tindakan apa-apa. Dalam menjalani kehidupan ini saja kita sudah diberi tugas Amanat Agung oleh Tuhan Yesus, yaitu membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Jadi, di dalam menjalani hidup ini, kita tidak boleh bermalas-malasan. Kita harus berkarya dan mengisi kehidupan ini dengan maksimal.
Tuhan tidak pernah tiba-tiba mendatangkan berkat dari langit. Memang segala berkat adalah Tuhan yang menyediakan, tetapi untuk memperoleh berkat-berkat Tuhan, kita tidak dapat menunggu seperti hujan dari langit. Keluaran 16:16-18 adalah contoh yaitu dimana waktu Tuhan memberikan manna kepada bangsa Israel. Tuhan menurunkan manna dari langit, tetapi orang Israel harus memungut manna tersebut untuk mendapatkan manna, tidak bisa berdiam diri saja. Tuhan juga sudah memberikan berkat kepada kita, tetapi kita harus melakukan bagian kita, yaitu bekerja dan berusaha. Maka Tuhan akan memberkati pekerjaan dan usaha kita.
Kalau kita malas, tidak mau bekerja, tidak mau sekolah, jangan pernah mimpi untuk menjadi kaya dan hidup berkelimpahan. Semua itu harus didapatkan dengan bekerja dan berusaha. Tuhan mau kita bekerja dan berusaha. Ini adalah bagian yang harus kita lakukan, dan Tuhan mau kita melakukan bagian kita. Setelah kita melakukan bagian kita, barulah Tuhan akan melakukan bagianNya, yaitu melimpahkan berkat-berkatNya kepada kita.
Ada satu pribadi yang dapat menjadi contoh buat kita. Kita dapat belajar dari semut, dan dari pribadi salah satu dari 12 murid Yesus yaitu Simon Petrus. Dalam Lukas 5:1-6 menunjukkan bahwa Tuhan memberi berkat berkelimpahan kepada Petrus di dalam ayat ini. Di sana saat itu tentunya banyak sekali nelayan dan perahu. Tetapi mengapa Petrus yang dipilih oleh Tuhan? Karena Petrus sudah melakukan bagiannya, dimana ia sudah bekerja keras semalaman.
Tuhan tidak pernah memberi berkat berkelimpahan kepada orang yang malas. Akan tetapi dalam bekerja, kita juga harus mengandalkan Tuhan. Bekerja keras mati-matian itu baik, tetapi jika kita dalam bekerja tidak mengandalkan Tuhan, maka pekerjaan kita akan sia-sia. Harus mengandalkan Tuhan, karena Tuhan yang memberikan berkat kepada kita. Petrus bekerja mati-matian sepanjang malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi waktu Tuhan Yesus ikut campur tangan di dalam pekerjaan yang Petrus lakukan, Petrus mendapatkan hasil yang luar biasa.
Begitu juga dengan pelayanan kita, haruslah dengan gigih kita melayani Tuhan. Kalau kita dalam mencari jiwa asal-asalan, tidak akan pernah menuai jiwa dalam pelayanan kita. Orang-orang yang diberkati Tuhan pasti adalah orang yang memiliki perjuangan dan kerja keras di dalam hidupnya. Orang yang malas-malasan tidak mungkin diberkati Tuhan dalam hidupnya. Jadi bekerja keras itu bukan konsep dunia dan tidak rohani, tetapi justru Tuhan sendiri mau agar kita bekerja keras, tetapi haruslah juga dalam usaha kita, kita menggantungkan semua pengharapan dan usaha kita kepada Tuhan Yesus. Kalau kita mau diberkati luar biasa, kita tidak boleh menjadi pemalas.
Binatang kedua dari kitab Amsal yaitu pelanduk seperti tertulis di Amsal 30:26 . Ini adalah berbicara tentang semangat yang tidak pernah padam. Walaupun dia lemah, tetapi dapat membuat rumah di bukit batu. Untuk menjadi pengikut Kristus, ternyata bukan hanya memerlukan rajin, tetapi semangat baja. Orang Batak dan orang Chinese dikenal dengan etos kerja kerasnya. Banyak dari mereka bekerja mati-matian dan menjadi kaya. Akan tetapi, hendaknya janganlah kita mencari uang saja, tetapi juga mencari Tuhan. Kita tidak boleh mudah menyerah dan mudah tersinggung kalau tidak mendapatkan apa yang kita mau. Di akhir zaman ini, kita harus menjadi orang yang tetap teguh dan semangat walaupun banyak pengharapan kita tidak kunjung datang.
Tuhan Yesus sendiri tidak selamanya selalu mengabulkan permohonan kita. Ada kalanya Dia juga menjadi raja tega, dan tidak selamanya menjadi raja Damai. Maka dari itu, jika kita tidak memiliki semangat pantang menyerah di dalam hidup kita, suatu saat pasti kita tidak akan kuat. Dalam Matius 15:22-28 menunjukkan bahwa ada kalanya kita berdoa, tetapi tidak mendapatkan jawaban Tuhan. Begitu juga dengan perempuan Kanaan ini. Dia tidak mudah menyerah. Sewaktu permohonannya tidak dijawab, dia semakin tidak menyerah untuk meminta kepada Tuhan. Banyak orang Kristen yang doanya sewaktu tidak dijawab oleh Tuhan, langsung marah dan ambil langkah mundur dari gereja dan pelayanan. Ini adalah mental yang sangat parah dan tidak akan bertahan di akhir zaman yang akan penuh dengan kesukaran.
Dalam ayat ini, Tuhan Yesus menyetarakan perempuan Kanaan ini dengan anjing. Tentunya ini akan membuat kita tersinggung. Banyak orang-orang yang terkena makian saat ia bekerja atau terkena kata-kata yang tidak menyenangkan langsung sakit hati dan marah. Jika kata-kata itu kita terima dari pimpinan kita saat kita bekerja, ada kalanya kita menjadi marah, dan tidak mau bekerja lagi karena merasa sakit hati. Pada zaman sekarang ini, kita tidak boleh mudah menyerah akan hal-hal semacam itu, akan tetapi harus memiliki semangat dan pantang menyerah di dalam hidup kita. Tekanan kecil yang datang di dalam diri kita hendaknya tidak membuat kita mudah putus asa dan menyerah.
Banyak sekali orang Kristen yang mudah menyerah, dan tidak memiliki mental baja, terutama dalam pelayanan dan kehidupan bergereja. Banyak orang Kristen yang mundur dari Tuhan karena merasa sakit hati setelah disakiti rekan sepelayanan dan sesama jemaat gereja. Jika kita mudah menyerah dan memiliki mental yang mudah menyerah, mudah mundur, kita tidak akan mendapatkan promosi Tuhan, dimana Tuhan berjanji menempatkan orang-orang percaya pilihannya sebagai kepala dan bukan menjadi ekor. Promosi Tuhan ini hanya berlaku bagi kita yang berlaku seperti pelanduk, tidak mudah mundur dan menyerah sewaktu menghadapi masalah dan tekanan, tetap memiliki semangat baja dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang.
Lukas 15:25-31 adalah contoh dari cerminan diri kita sebagai anak-anak Tuhan yang mudah marah dan tersinggung. Misalnya dalam pelayanan, ada orang-orang yang baru beberapa bulan melayani dan berjemaat di gereja kita, tetapi diangkat di satu posisi di gereja, atau diangkat menjadi pemimpin dalam suatu organisasi, dan kita sebagai jemaat yang sudah bertahun-tahun dan tidak mendapat posisi tersebut menjadi marah. Ada kalanya kita demikian, dan akhirnya karena merasa tidak adil, kita keluar dari rumah Tuhan, dan kita sendiri yang mendapatkan kerugian karena iri hati tadi. Padahal dalam melayani Tuhan, Tuhan tidak pernah melihat apa posisi kita dalam melayani Tuhan.
Si sulung dalam ayat tadi juga berkata bahwa ia belum pernah sekalipun mendapatkan kambing untuk berpesta dengan sahabat-sahabatnya. Kita sebagai anak raja yang tinggal serumah dengan raja segala raja, tidak seharusnya berpikir demikian. Kita adalah pewaris kerajaan Surga, dan apa yang dimiliki oleh Bapa adalah milik kita juga, dan janganlah marah jika ada orang lain yang masih baru tetapi mendapatkan kepercayaan atau Tuhan taruh menjadi pemimpin atas kita di dalam gereja.
Kita juga janganlah meributkan hal-hal yang sepele dengan Tuhan seperti orang yang tidak berpengharapan. Janganlah kita mengeluh akan hal-hal sepele yang dikaitkan dengan perumpamaan “kambing” tadi, seperti penyakit kita, biaya hidup kita sehari-hari, dan keperluan-keperluan kita. Kita sebagai anak-anak Tuhan sudah pasti akan Tuhan pelihara seperti janjiNya di dalam firmanNya. Masa depan yang penuh harapan, berkat, damai sejahtera, kesembuhan, dan segala hal yang dimiliki oleh Tuhan Yesus akan menjadi milik kita juga, yang adalah anak-anakNya yang menjadi pewaris rumah Tuhan.
Orang yang bermental rendah terlihat dari gaya hidupnya yang kurang bergairah dalam mengerjakan apapun dan melakukan apapun. Akan tetapi orang yang memiliki semangat dari dalam dirinya, ada spirit terpancar di wajahnya bila bertemu dengan seseorang. Tata krama tidak pernah mengajarkan kita untuk lemah gemulai dan bersantai-santai. Dalam menjalani hidup kita, kita harus menjalaninya dengan penuh semangat dan gairah, karena sikap yang terpancar dari diri kita, perkataan yang keluar dari mulut kita, dan apa adanya kita akan menunjukkan bagaimana sebenarnya mental yang ada di dalam diri kita, apakah kita bermental baja seperti pelanduk atau tidak.
Si sulung dalam cerita anak yang hilang tadi, karena marah, hampir ingin pergi meninggalkan rumah bapanya. Kalau dia pergi, dia akan kehilangan semua berkat dan fasilitas yang tersedia di rumah bapanya. Alangkah disayangkan jika kita sebagai orang Kristen yang mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan mudah marah, dan ingin keluar dari rumah Tuhan karena peristiwa yang sepele. Kita harus memiliki mental baja dan tidak mudah menyerah dan tersinggung, supaya berkat Tuhan terus melimpah bagi kita.
Mengapa kita tidak boleh mudah mundur dan menyerah? Ini bukan hal sepele. Dalam Yohanes 21:1-3 dapat kita lihat bahwa seharusnya jika murid-murid Tuhan berkumpul dan bertemu dengan Yesus, seharusnya mereka tinggal bersama dengan Yesus dan bukan pergi mengerjakan hal-hal lain. Tuhan Yesus waktu itu menampakkan diri kepada mereka, tetapi mereka tidak mengindahkan, melainkan ingin pergi menangkap ikan, sehingga usaha mereka waktu itu menjadi gagal total, karena mereka pergi dan berusaha tanpa dengan penyertaan dan campur tangan Tuhan.
Roh yang menyala-nyala adalah modal kita dalam menghadapi situasi akhir zaman seperti sekarang ini, dan janganlah kita menjadi patah semangat, karena akan fatal akibatnya. Jika kita tidak memiliki semangat lagi, mulai lemah, dan mulai tidak bersemangat dalam hidup, dalam Amsal 24:10 menunjukkan bahwa kita tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi persoalan kita. Pada zaman sekarang ini Iblis sedang terus menerus menyerang orang-orang Kristen seperti di kitab Wahyu 12:12 , agar menjadi lemah, dan Iblis sedang berusaha habis-habisan untuk menghancurkan anak-anak Tuhan karena ia tahu bahwa waktu baginya telah singkat. Maka kita harus terus berjaga-jaga, dan kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi lemah, karena jika tidak demikian, kita tidak akan mampu melawan.
Kita harus dengan semangat mendeklarasikan Firman Tuhan dan janji-janjiNya atas kita supaya semuanya itu menjadi kekuatan bagi kita. Mungkin saat ini kita sedang dalam masalah dan kesulitan, tetapi janganlah semuanya itu membuat kita menjadi lemah, tetapi kita harus tetap semangat dan dengan mental baja memperkatakan Firman dan janji-janji Tuhan yang pasti Tuhan genapi di dalam hidup kita. Waktu kita menghadapi masalah, kita harus mempunyai sumber kekuatan seperti Daud waktu ia melawan Goliat di I Samuel 17:40-47 agar kita tidak mudah menyerah dan menjadi tawar hati. Goliat pun akhirnya kalah, karena mental Goliat sudah runtuh dalam perang dan keyakinan Daud akan mengalahkan Goliat sangat tinggi karena Daud menggunakan deklarasi Firman dan nama Tuhan untuk menghancurkan mental Goliat. Jika lawan kita sudah hancur mentalnya, ia akan mudah sekali kalah. Orang Kristen tidak boleh memiliki mental yang lemah dalam menghadapi setiap permasalahan kita, karena kita tidak menghadapi masalah kita sendirian, tetapi kita menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
Binatang ketiga dari pelajaran kita ini adalah belalang seperti di Amsal 30:27 . Ini berbicara mengenai kedisiplinan. Melayani Tuhan tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan, tetapi membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.
Apabila kita melaksanakan ibadah, kita tidak bisa asal-asalan datang kebaktian, tetapi harus dengan disiplin, kerena hanya mereka yang disiplin, yang akan benar-benar mendapatkan upah dari pada Tuhan. Kedisiplinan ini sangatlah penting, sebagaimana Firman Tuhan juga telah memberitahu kita di kitab Ibrani 11:6 Ayat ini menunjukkan kita, bahwa ternyata upah dari Tuhan bukanlah hanya untuk orang yang melayani Tuhan saja, tetapi Tuhan juga memberikan upah kepada setiap orang yang dengan disiplin dan bersungguh hati mencari Tuhan. Tuhan menghargai orang-orang yang tidak asal-asalan, tetapi mereka yang dengan penuh kedisiplinan dan kesungguhan mendekatkan diri kepadaNya.
Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Keberadaan kita ini memang adalah sesuatu yang baik, tetapi keberadaan kita yang baik tidak cukup untuk membuat Allah bahagia atas kita. Yang membuat Allah disenangkan adalah jika kita tidak memiliki kepribadian yang asal-asalan, tetapi berkualitas dan penuh kedisiplinan dalam menjalani hidup. Di dalam tubuh kita ada Roh Allah, sehingga itulah kita disebut Bait Allah. Maka dari itu, kita tidak boleh asal-asalan terhadap tubuh kita dan hidup kita. Dalam hidup ikut Tuhan, kita harus dengan disiplin menjaga hidup kita, terutama menjaga kekudusan. Kita tidak bisa ikut Tuhan tetapi tetap membiarkan segala yang kotor masuk ke dalam tubuh kita, hidup kita, dan hati kita. Kita harus dengan teguh menjaga tubuh kita yang adalah Bait Allah, tempat dimana Allah tinggal ini tetap kudus, karena Allah adalah kudus.
Tuhan bukan mencari manusia yang kudus, karena setiap orang pernah berbuat dosa, sehingga tidak ada satu orang pun di dunia ini yang kudus. Yang Tuhan cari adalah orang yang menjaga kekudusan. Walaupun ia berbuat salah, ia meminta ampun dari dosanya, dan tidak mengulangi dosa sedemikian lagi. Tuhan menghendaki kita kudus, karena Tuhan adalah pribadi yang kudus. Kekudusan dengan dosa tidak dapat disatukan, lebih daripada air dengan minyak. Maka dari itu, kita harus terus dengan disiplin menjaga kekudusan, agar Tuhan tetap dapat disenangkan saat tinggal di dalam kita.
Daud dikatakan Alkitab adalah orang yang berkenan kepada Tuhan, padahal kita mengetahui bahwa Daud telah membunuh Uria dan mengambil istrinya. Pembunuhan Uria ini adalah pembunuhan yang berencana. Tetapi waktu teguran Tuhan datang dari nabi Natan, Daud mengoyakkan pakaiannya dan mengaku akan dosa-dosanya, mengaku dirinya adalah orang yang berdosa. Oleh karena itu, Tuhan tetap tinggal di dalam hidup Daud, dan Daud diperkenan oleh Allah.
Lain halnya dengan Saul. Roh Kudus akan tinggal di dalam hati kita waktu kita menerima Tuhan Yesus, akan tetapi apabila kita tidak menjaga kekudusan, Roh Kudus akan pergi meninggalkan kita. Hal ini bukanlah hal yang main-main, karena Roh Kudus yang sudah tinggal di dalam hidup kita dapat meninggalkan kita apabila kita tidak menjaga kekudusan kita. Mengenai hal ini dapat kita lihat di 1 Samuel 16:14 . Roh Allah mundur daripada Saul, walaupun mungkin kesalahan yang dilakukan Saul bukanlah kesalahan yang besar menurut pandangan kita, sedangkan Daud pernah melakukan kesalahan yang fatal, tetapi dia mengakui dosanya dan meminta ampun kepada Tuhan, sehingga Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Roh Allah meninggalkan Saul karena dia tidak mentaati perintah Tuhan, dimana dia tidak membunuh semua orang Amalek seperti yang diperintahkan kepadanya, melainkan mengambil lembu-lembu yang gemuk-gemuk dengan alasan untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
Ada dosa yang membelenggu kita yang seringkali dinamakan dosa kesayangan, yang selalu kita lakukan seringkali. Misalnya dosa seks, dan merokok. Walaupun Alkitab tidak secara langsung menuliskan tidak boleh merokok, tetapi Alkitab menuliskan dengan jelas bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus yang harus kita jaga dengan baik. Dunia saja tau bahwa merokok dapat mengakibatkan kanker, kegagalan kandungan, dan lain-lain. Maka dari itu, kita sebagai orang Kristen harus bijaksana dan harus dengan disiplin melawan kedagingan kita untuk merokok. Dalam mengikut Tuhan, tidak boleh kita lakukan dengan setengah-setengah, tetapi memerlukan kedisiplinan yang tinggi.
Kita dapat melihat contoh kehidupan Tuhan Yesus waktu di dunia ini. Tuhan Yesus tidak menjalani hidupNya dengan asal-asalan, tetapi penuh kedisiplinan menjalani kehendak BapaNya. Tetapi sekarang ini banyak orang Kristen, bahkan hamba-hamba Tuhan, dan mereka yang melakukan pelayanan di gereja, hidupnya asal-asalan dan tidak menjaga kekudusan. Belalang saja di dalam pelajaran kita kali ini adalah binatang kecil yang memiliki sikap kedisiplinan dalam hidupnya, tetapi orang Kristen banyak yang masih harus belajar banyak tentang kedisiplinan dari belalang.
Kita harus dengan disiplin berjaga-jaga di dalam hidup kita, karena Iblis ada dimana-mana, termasuk di saat kita kebaktian. Dalam Ayub 1:6 dan Ayub 2:1 menyebutkan bahwa Iblis juga dapat menemui Tuhan.
Kita harus memulihkan diri kita dari pada segala dosa kita. Dosa sebanyak apapun dapat Tuhan ampuni dan tidak menjadi masalah, asalkan kita mau datang kepadaNya, mengakui, meminta pengampunan dari pada Tuhan, dan meninggalkan dosa-dosa kita tersebut. Adakan rekonsiliasi dalam hidup kita setiap saat agar Tuhan terus menerus memulihkan kehidupan kita menjadi kehidupan yang senantiasa diperbaharui dari segala perbuatan dosa dan kelemahan kita. Untuk datang kepadaNya kita dapat datang kapan saja kita mau. Tuhan Yesus kita adalah Tuhan yang mengatasi ruang dan waktu. Kapan saja dan di mana saja kita mau datang kepadaNya, Dia selalu berkenan ditemui dan selalu mau untuk memulihkan kita.
Kita harus menjaga senantiasa kekudusan hidup kita dan harus selalu melakukan pemberesan kepada Tuhan karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita mati, maka dari itu kita harus selalu berjaga-jaga.
Binatang terakhir yang kita pelajari hari ini adalah cicak. Amsal 30:28 menunjukkan bahwa cicak ada dimana-mana. Ini adalah arti dari sikap fleksibel. Banyak orang yang tidak memiliki sikap ini. Sikap fleksibel berarti mudah adaptasi dimanapun dan sikap ini sangat disukai orang. Seringkali orang Kristen memiliki sikap eksklusif, dimana kita mengkhususkan diri kita dan tidak mau bergaul dengan semua orang. Hal ini adalah kebiasaan yang tidak baik. Kita tidak boleh berkumpul saja sesama orang Kristen dan menamakan diri kita sebagai kelompok terang dan menghakimi orang-orang yang belum beroleh keselamatan sebagai kelompok gelap. Persoalan keselamatan ke surga adalah anugerah Tuhan dan bukan usaha kita, maka dari itu kita tidak boleh mengkhususkan diri sebagai orang-orang yang diselamatkan dan tidak mempedulikan keselamatan mereka yang belum mengenal Kristus. Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk semua orang berdosa, terutama mereka yang belum mengenal Kristus. Maka dari itu kita tidak boleh mengeksklusifkan diri dan tidak mau bergaul dengan orang-orang yang belum beroleh keselamatan.
Semakin terbuka diri kita akan pergaulan dimana-mana, akan membuka transformasi terjadi dimana-mana. Kita harus terbuka dan mau menabur kasih kepada siapa saja, supaya mereka dapat mengenal Yesus dari kasih yang kita bagikan. Jangan kita hanya mempedulikan orang-orang Kristen saja, tetapi semua manusia dikasihi oleh Allah dan Tuhan Yesus ingin kita membagikan kasih yang sudah kita terima kepada mereka semua.
Banyak gereja-gereja mengeksklusifkan diri, dan parahnya dijadikan tempat mencari keuntungan dengan hanya mengundang orang-orang yang kaya saja. Gereja seperti ini tidak diperkenan oleh Tuhan. Gereja harus menjadi rumah yang terbuka bagi siapa saja yang mau datang kepada Tuhan. Gereja seharusnya menjadi tempat untuk menjaring jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan, dari golongan manapun orang itu datang. Sebagai pengurus gereja juga kita tidak boleh memilih-milih orang untuk pekerjaan Tuhan. Misalnya dengan mengangkat orang yang kaya dan punya kedudukan di salah satu posisi di gereja dengan harapan memperoleh banyak kemudahan dari orang tersebut, atau dengan mengangkat orang-orang yang dekat saja untuk bekerja bersama-sama dalam pelayanan. Sikap-sikap seperti ini sangatlah tidak berkenan di hati Tuhan.
Cicak menunjukkan sikap yang supel, dimana sikap ini sulit ditemukan di dalam pribadi orang Kristen. Harusnya ciri-ciri orang Kristen adalah seperti yang tertulis di Kisah Para Rasul 2:47 . Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dilahirkan kembali, selayaknya sikap ini ada di dalam hidup kita. Ayat ini berbicara mengenai jemaat mula-mula. Mereka disukai semua orang. Dalam ayat sebelumnya di Kisah Para Rasul 2:41 lebih menunjukkan demikian. Banyak orang menyukai Petrus yang telah diurapi Roh Kudus, sehingga dalam satu hari, tiga ribu orang menerima perkataan yang diucapkan oleh Petrus, percaya dan diselamatkan.
Apabila kita mempelajari kehidupan Yesus, kita dapat melihat bahwa dimana Yesus ada, disana ada kerumunan orang banyak yang ingin mengenal lebih dekat siapa Tuhan, dan kerumunan orang menunjukkan bahwa banyak orang menyukai Dia. Apakah kita sebagai orang Kristen adalah orang-orang yang disukai oleh banyak orang? atau malah dibenci orang?
Janganlah kita menjadi orang yang eksklusif sehingga dibenci orang, tetapi biarlah kita belajar dari sikap cicak, dimana sikap yang supel disukai semua orang sehingga akan ada orang-orang yang tertarik untuk mengenal diri kita karena pribadi Tuhan Yesus yang ada di dalam diri kita memancar dari sikap dan kehidupan kita.
Untuk dapat memenangkan banyak jiwa, bermula dari sikap kita dahulu. Kita harus menjadi pribadi yang disukai orang dan membuat orang tertarik dan senang kepada kita. Kita sebagai orang-orang Kristen adalah Alkitab yang terbuka bagi orang-orang yang belum diselamatkan. Apakah sikap kita mencerminkan pribadi Yesus? karena sikap kita akan menentukan orang-orang akan tertarik dan mau mengenal Yesus yang kita sembah dari sikap dan kehidupan kita, anak-anakNya.
Sikap kita harus dijaga senantiasa baik bukan hanya di gereja, tetapi terlebih waktu kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Karena di waktu itulah kita berbaur dengan banyak orang dan orang-orang akan menilai kita sebagai orang Kristen, apakah orang Kristen adalah orang yang berbeda dan memiliki citra Kristus di dalamnya.
Kita sebagai orang Kristen harus mau masuk di kalangan manapun. Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang statis, tetapi harus misioner. Seperti rasul Paulus yang berkata, “ Di kelompok Yahudi, aku menjadi orang Yahudi, dan di kelompok Yunani, aku menjadi orang Yunani. “
Dalam membawa jiwa, hendaknya kita membangun dahulu hubungan dan persahabatan dengan orang-orang. Jika hubungan dan persahabatan sudah terbentuk, memenangkan jiwa adalah sesuatu hal yang mudah. Penginjilan jangan melakukan dengan keras berdasarkan Alkitab, apalagi dengan mendeklarasikan bahwa semua yang tidak percaya akan menerima hukuman kekal di neraka. Hal ini tidak akan mendatangkan jiwa-jiwa kepada Kristus.
Tetapi apabila kita membawa kasih dan persahabatan kepada setiap orang, orang akan dapat melihat dan merasakan perbedaan dari sikap kita, dan senang akan diri kita. Jika keadaan ini sudah terjalin, mereka akan mudah menerima apa yang kita katakan. Banyak orang Kristen tidak dapat memenangkan jiwa karena mereka terlalu kaku, dan tidak mau bergaul dengan semua orang.
Ada dua hal yang membuat orang-orang tidak mau mencari Tuhan Yesus, dan ini dikarenakan oleh sikap orang Kristen. Sikap-sikap orang Kristen sendiri yang membuat transformasi dan memenangkan jiwa menjadi terhambat. Sikap yang pertama dapat kita lihat di kitab Yakobus 3:7-9. Perkataan kita seringkali membuat orang-orang menjauh dari kekristenan, dan tidak mau mengenal Tuhan Yesus yang kita sembah. Seringkali perkataan yang menyakitkan keluar dari mulut kita dan membuat orang lain sakit hati.
Kita adalah surat Kristus yang terbuka. Dengan perkataan yang kita ucapkan menyebabkan kita tidak menjadi kesaksian tentang Tuhan kita kepada orang lain. Seringkali kita mau membawa orang-orang kepada Tuhan, tetapi kita lupa mengontrol perkataan kita, sehingga tidak ada orang yang mau mendengarkan kesaksian kita akan Tuhan Yesus. Perkataan kita bahkan dikatakan Firman Tuhan lebih buas daripada binatang-binatang buas. Binatang liar saja bisa dijinakkan, tetapi lidah kita seringkali tidak terkuasai dan mematikan.
Sekarang ini, banyak sekali provokator dapat ditemukan di dalam gereja. Mulut yang digunakan untuk memuji Tuhan, juga digunakan untuk bergosip. Banyak sekali provokator di gereja dibuktikan oleh perpecahan gereja-gereja dimana-mana, tidak ada kesehatian di dalam jemaat, melainkan lebih senang menjelek-jelekan kekurangan orang lain. Kemelut dan perpecahan yang terjadi di dalam banyak gereja-gereja Tuhan dimana-mana dapat dipastikan karena perkataan yang tidak dapat dikuasai.
Istri hendaknya jangan berkata kasar dan menyakiti suaminya. Ada kalanya mungkin suami tidak dapat membawa uang pulang ke rumah. Janganlah dengan perkataan yang tajam mengkritik kekurangannya, tetapi hendaknya memberi dukungan dan memperjuangkan setiap masalah yang ada bersama-sama.
Seringkali perkataan kita membuat banyak orang tidak mau mencari Tuhan Yesus. Ada kalanya salah satu baik suami atau istri belum beroleh keselamatan. Seharusnya kita memberikan perhatian dan perkataan yang penuh kasih. Jika kita memaki atau menyakitinya dengan perkataan kita, maka istri atau suami kita akan semakin jauh dari pertobatan. Tuhan tidak senang dengan orang Kristen yang dengan perkataannya membuat orang-orang menghindar dan menjauhi kekristenan. Tuhan senang apabila kita dengan perkataan kita dapat membawa pertobatan jiwa-jiwa kepada Tuhan.
Sekarang ini banyak orang Kristen yang tidak lagi datang ke gereja. Ini dikarenakan perkataan yang mereka terima dari orang-orang di gereja. Perkataan sesama jemaat yang seharusnya memperkatakan kasih, malah membuat sakit hati, sehingga banyak orang-orang Kristen menjadi tawar hatinya. Kata-kata yang menyakitkan juga banyak diterima orang dari pemimpin gereja, baik gembala, rekan pelayanan, bahkan dari hamba-hamba Tuhan yang memberitakan firman.
Kita harus menjaga perkataan kita. Daripada kita salah bicara dan menyakiti orang lain, lebih baik kita menutup mulut kita dan jangan bicara. Manusia dalam hidupnya memang pasti berbicara banyak, terutama dalam hal ini perempuan. Menurut penelitian, perempuan berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Maka dari itu, daripada kita berbicara akan hal-hal yang sia-sia, lebih baik kita menggunakan waktu kita untuk berbicara kepada Tuhan. Alangkah baiknya bila kita menghabiskan banyak waktu kita untuk berbicara dengan Tuhan, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut kita bukanlah kata yang sia-sia dan menyakitkan orang.
Ada kalanya mungkin suami pulang malam. Kita janganlah memarahinya dan memaki-maki. Tetapi hendaknya kita menanyakan dengan baik-baik. Hal ini dapat dilakukan apabila kita memiliki banyak waktu yang dihabiskan bersama Tuhan. Apabila kita banyak berkata-kata dengan Tuhan, kita akan dipenuhi dengan kasih, lepas dari kecurigaan dan kekuatiran, terutama pemikiran-pemikiran yang negatif yang muncul di pikiran kita dari pengaruh roh jahat. Apabila sebagai istri menekan dan menyalahkan suami, maka lebih besar kemungkinan akan menjadi benar-benar terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perkataan kita hendaknya dapat kita jaga, karena perkataan kita memegang kendali atas hidup kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa dapat mengendalikan lidahnya, dia dapat mengendalikan seluruh dirinya.
Janganlah kita mendakwa dan menghakimi, karena penghakiman adalah hak Tuhan. Apabila ada yang menyakiti hati kita, lebih baik kita mendoakannya dan Tuhan akan memulihkan hubungan kita dengan dia yang rusak tersebut.
Hal kedua yang diperbuat orang Kristen yang membuat orang-orang yang tidak percaya menjadi semakin menjauhi kekristenan adalah hati yang tidak memiliki ketulusan. Tuhan sendiri berpesan di dalam Matius 10:16 supaya kita memiliki hati yang tulus. Tuhan menggambarkan ketulusan dengan burung merpati, karena ketulusan sudah merupakan sesuatu yang langka dalam diri manusia. Tuhan menggunakan binatang untuk mengajar manusia, bahwa sikap ketulusan saat ini menjadi sangat mahal harganya karena langka ditemui. Banyak sekali orang Kristen yang melakukan pelayanan ini dan itu untuk kemuliaan nama Tuhan, tetapi tidak memiliki ketulusan di dalam hatinya. Barang langka saat ini bukan hanya emas dan berlian. Ketulusan dan hati yang murni menjadi lebih mahal karena hal ini tidak dapat dibeli dengan uang. Ketulusan adalah sikap yang paling disukai dan sulit sekali ditemukan dalam hidup seseorang. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita memiliki hati yang tulus?
Apabila kita memiliki hati yang tulus, akan dapat menyukakan hati banyak orang, dan orang-orang yang merasakannya akan bertanya-tanya akan kepribadian kita. Disanalah terang Tuhan Yesus dapat dinyatakan dan mudah diperdengarkan kepada banyak orang. Demikianlah kita menjadi sumber kesaksian akan keselamatan yang kekal.
Apabila kita menolong orang, mendoakan orang, dan berbuat baik kepada orang, janganlah melihat keberadaan orang tersebut berdasarkan status sosial atau yang lainnya, karena hal itu sama sekali tidak mencerminkan ketulusan. Walaupun yang meminta bantuan dan doa kita adalah orang yang sangat miskin, kita harus dengan tulus hati membantu dan mendoakannya dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus tidak pernah memandang jiwa berdasarkan alasan apapun. Alkitab berkata bahwa ada satu saja jiwa yang bertobat, seluruh isi surga bersukacita dan bersorak-sorai.
Ada empat karakter binatang yang kita pelajari hari ini. Binatang pertama adalah semut. Tuhan memakai semut untuk mengajar orang-orang pilihanNya karena semut adalah binatang yang rajin, sedangkan masih banyak sekali orang Kristen yang malas dan hanya minta berkat Tuhan saja. Berkat Tuhan akan melimpah kepada kita bila kita bekerja keras dan berusaha. Bekerja keras dengan disertai tuntunan Tuhan, maka perkara yang besar akan terjadi di dalam hidup kita.
Binatang yang kedua adalah pelanduk yang mencerminkan sikap semangat dan pantang menyerah. Masalah boleh datang kapan saja, tetapi kita tetap tenang dan damai bersama Yesus. Perempuan Kanaan dalam memohon kepada Tuhan Yesus memiliki sikap yang pantang menyerah, walaupun Tuhan Yesus menyamakan dirinya dengan anjing, tetapi perempuan ini tetap teguh hati, maka mujizat terjadi di dalam hidupnya. Kita memiliki status anak Kerajaan Surga, dimana Tuhan menjanjikan berkat yang berkelimpahan. Oleh sebab itu kita harus pantang menyerah akan hak yang harus kita peroleh. Kita harus dengan gigih dan pantang menyerah mendapatkannya.
Penampilan kita harus kita jaga dengan baik, terutama apabila kita datang ke kebaktian. Jangan asal-asalan dengan penampilan kita bila datang ke gereja. Kita datang ingin bertemu dengan Tuhan, yang adalah raja segala raja. Tidak perlu yang mahal dan penuh dengan perhiasan, akan tetapi kita harus menampilkan penampilan yang terbaik.
Binatang yang ketiga adalah belalang. Tuhan memakai belalang. Belalang mencerminkan sikap disiplin dalam hidupnya. Banyak orang Kristen asal-asalan, tidak disiplin, dan tidak menjaga tubuhnya. Kita sebagai orang Kristen harus menjaga tubuh kita yang adalah Bait Roh Kudus.
Binatang yang terakhir adalah cicak. Dimana-mana cicak dapat ditemukan. Ini mencerminkan sikap supel dan fleksibel. Kita tidak boleh mengeksklusifkan diri dari orang-orang yang belum beroleh keselamatan. Kita tidak memiliki otoritas untuk menghakimi orang. Kita harus memiliki hati yang tulus bila memberitakan keselamatan. Keselamatan yang kita beritakan akan diterima atau tidak itu adalah urusan Tuhan dengan orang tersebut. Bagian kita adalah kita sebagai alat Tuhan memberitakan keselamatan, kita harus melakukannya dengan hati yang tulus.